Ratusan Warga Naringgul Gelar Shalat Minta Hujan

Warga Naringgul Gelar Shalat Minta Hujan

RADARCIANJUR.com – Ratusan warga Desa Sukabakti, Kecamatan Naringgul menggelar shalat Istisqo di lapangan bola Badak Putih, Desa Sukabakti, Jumat (13/9). Hal itu dilakukan warga lantaran sejak lima bulan terakhir, wilayah tersebut dilanda kekeringan yang cukup parah.

Dengan diinisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa Sukabakti, seluruh warga mengikuti shalat Istisqo usai menunaikan shalat Jumat.

Ketua Karang Taruna Desa Subakti, Asep Hendar (41) mengatakan, shalat Istisqo itu dilakukan untuk mengharap turunnya hujan di wilayah tersebut.

“Sekitar lima bulan musim kemarau berjalan sehingga warga desa Sukabakti mengalami kekeringan. Mudah-mudahan setelah melaksanakan sholat Istisqo hujan segera turun,” katanya.

Hal senada disampaikam Kepala desa Sukabakti, Tatang DS. Kurang lebih ada sekitar 400 orang warga Desa Sukabakti, baik laki laki dan perempuan yang mengikuti pelaksanaan shalat Istisqo.

“Alhamdulillah sangat antusias sekali dan semuanya terlihat khusyu saat mengikuti pelaksanaan shalat Istisqo,” ujarnya.

Sementara, Dandim 0608 Cianjur Letkol Inf Rendra Dwi Ardhani mengatakan, musim kemarau tahun ini membuat banyak areal pertanian mengalami kekeringan. Berdasarkan data, tercatat lahan pertanian yang mengalami kekeringan mencapai 200 herktare.

Karena itu, pihaknya bekerjasama dengan Dinas Pertanian Pemkab Cianjur telah melakukan sejumlah upaya. Diantaranya dengan mendatangkan pompa air.

“Sekitar tiga hari yang lalu kami telah mengajukan pompa air ukuran tiga inci sebanyak 200 unit, dan mungkin akan dioperasikan dalam waktu dekat ini” kata Rendra, Jumat (13/9).

Menurut Rendra, 200 unit pompa air yang diajukan rencananya akan dipergunakan untuk mengairi sawah di wilayah Kecamatan Karangtengah samapai Bojongpicung.

“Sebetulya petani disana belum.gagal panen, dan kita upayakan agar sampai gagal panen,” ujarnya.

Rendra mengatakan, kekeringan yang terjadi antara Kecamatan Karangtengah hingga Bojongpicing itu terjadi hampir setiap tahun, menyaki hal itu tentu harus ada mainset yang dirubah.

“Pada saat kemarau lahan itu kering, sehingga ditanam kedelai, atau jagung yang tidak membutuhkan air banyak, dan masyarakat tidak tergantung hanya menanam padi,”katanya.

Lanjut Rendra, Kecamatan Karangtengah dan daerah Cianjur selatan merupakan daerah yang rawan terjadinya kekeringan.

“Di beberapa titik, Babinsa telah bekerjasama dengan kelompok tani untuk membuat sodetan-sodetan,” pungkasnya.

(jay/dil)