Balon Wabup Cianjur Ini Protes Kebijakan PDIP, Kenapa?

Salah seorang Balon Bupati Cianjur Iyul Sulinah saat menggelar jumpa pers. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Salah seorang Balon Bupati Cianjur Iyul Sulinah mengkritisi kebijakan internal DPC PDI Perjuangan terkait persyaratan dalam penentuan penerimaan bakal calon (balon) bupati-wakil bupati.

Iyul Sulinah menyatakan, adanya survei popularitas yang akan diselenggarakan pada Senin 23 September 2019 nanti terlalu menguntungkan balon petahana yang sama mendaftarkan diri untuk kembali maju menjadi balon bupati melalui PDIP.

“Jelas yang punya popularitas adalah calon petahana,” katanya saat menggelar jumpa pers di Cianjur, Selasa (17/9).

Iyul menilai, survei popularitas saat penjaringan balon bupati adalah sebuah hal yang tidak lazim. “Saya rasa adanya survei popularitas adalah ketentuan yang tak masuk akal,” katanya.

Ia mengatakan dirinya mendaftarkan diri sebagai balon bupati dan wakil bupati Cianjur ke DPC PDIP Cianjur pada Senin (16/9) kemarin, satu paket dengan mantan Kepala BNNP Jabar Brigjen Pol (Purn) Drs H Anang Pratanto.

“Saat daftar Pak Anag didaftarkan menjadi balon bupati dan saya sebagai wakilnya,” ujarnya.

Menurutnya, jika kemudian dirinya tidak lolos menjadi balon melalui PDIP, maka ia akan kembali mendaftar melalui partai lain.

“Kita lihat saja nanti, sekarang partai-partai lain belum membuka pendaftaran,” katanya.

Iyul yang memiliki latarbelakang pengusaha di Jakarta itu mengatakan, niat untuk mencalonkan diri menjadi wakil bupati Cianjur hanya ingin membawa perubahan bagi Kabupaten Cianjur.

“Kalau segi finansial saya rasa sudah cukup. Saya jadi pengusaha di Jakarta dan anak-anak saya semua sekolah di luar negri,” ungkapnya.

Sementara, Ketua DPC PDI Perjuangan Susilawati mengatakan, kebijakan survei popularitas adalah tahapan dan mekanisme partai.

“Ini bukan kewenangan DPC tapi ini kewenangan dari DPD dan DPP partai,” katanya.

Susi membantah jika survei popularitas menjadi suatu pengondisian untuk melolosakan salah satu balon tertentu.

“Adanya survei popularitas kita hanya ingin melihat realitas atau respon dari masyarakat secara objektif,” katanya.(dil)