Dampak Kemarau di Desa Sukajaya, Antri Siang-Malam Andalkan Sungai Cisokan

DIPAKSA SABAR: Warga harus antre siang-malam untuk bisa mendapatkan air hasil menyedot Sunga Cisokan yang airnya keruh untuk kebutuhan sehari-hari.

RADARCIANJUR.com – Sudah sejak empat bulan terakhir, warga Desa Sukajaya, Kecamatan Leles, harus lebih bersabar untuk mendapatkan air. Sumur-sumur warga sudah mengering. Lahan sawah pecah-pecah. Sungai-sungai kecil pun mengering. Tidak ada air yang mengalir. Satu-satunya air yang bisa dimanfaatkan warga adalah air dari Sungai Cisokan. Sayangnya, debit air sungai tersebut sudah sangat berkurang dan berwarna kuning.

LAPORAN: A. Jajang Sugiarto, LELES

Sudah empat bulan ini, Rahmat harus menempuh jarak sekitar 500 meter dari kampungnya untuk bisa mencapai Sungai Cisokan. Satu-satunya tempat yang masih menyisakan air di musim kemarau ini.

Itupun, debit airnya sudah sangat berkurang. Selain itu, airnya kini sudah keruh berwarna kuning. Tidak layak untuk dikonsumsi.

Dengan membawa dua jerigen yang dipikul di pundaknya, ia bersama warga desa lainnya, setiap pagi dan sore hari, selalu mengambil air dari sungai tersebut.

Rahmat mengaku, air itu memang tidak untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum. Melainkan untuk kebutuhan MCK saja. Itu pun, mereka harus lebih dulu mengendapkannya semalaman.

“Ditampung dulu di ember atau timba semalaman. Biar enggak keruh, Kang. Baru besoknya bisa dipakai,” tuturnya kepada Radar Cianjur.

Rahmat mengungkap, sejatinya warga juga bisa mengambil air dari penampungan di Kampung Cihonde. Air itu disedot menggunakan disel milik DKM setempat. Akan tetapi, warga harus rela mengantre sesuai jatah masing-masing.

“Ada yang kebagian siang, ada yang kebagian antrean malam. Itu juga dijatah. Jadi kalau mau lebih ya harus mengambil sendiri dari sungai,” ungkapnya.

Haji Mistam (40), Ketua RT 11/03, Kampung jatiwangi, Desa Sukajaya menerangkan, penggunaan disel itu sendiri memang merupakan hasil musyawarah dan kesepakatan seluruh warga.

Berdasarkan kesepakatan bersama, warga ditarik iuran untuk membeli bahan bakar disel tersebut. Dengan begitu, air dari Sungai Cisokan bisa disedot untuk lebih dulu ditampung ke dalam sebuah kolam penampungan.

“Ini sudah empat bulan. Jadi warga semua bisa kebagian sesuai dengan iuran. Tapi ya gitu, harus dijatah dan antre,” jelasnya.

Mistam menambahkan, jalan menuju ke Sungai Cisokan cukup curam dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Sedangkan untuk mengangkut jerigen dengan menggunakan kendaraan roda dua, tidak memungkinkan.

“Curam kalau ke bawah. Jaraknya juga sekitar 500 meter. Jadi enggak mungkin pakai motor. Bisanya hanya jalan kaki, dipikul,” terangnya.

Abah Herman (53), salah seorang warga menambahkan, selepas magrib sampai pukul 22:00 malam kadang warga digilir. Ada yang kebagian menjaga disel di bawah dengan jalan kaki, ada juga yang menunggu di atas.

“Kami bersama warga lainya berharap ada bantuan kiriman air dari BPBD Kabupaten Cianjur atau dari mana saja, untuk meringankan beban warga Kampung Jatiwangi,” harapnya.

Abah Herman melanjutkan, bagi kaum laki-laki dan masih cukup kuat, tentu tidak masalah jika kebagian tugas untuk menjaga disel atau antrean. Akan tetapi, ada juga warga yang berusia renta dan janda.

“Dengan mengunakan jerigen kaum ibu-ibu, kebagiannya jauh beda dengan warga yang laki-laki,” katanya.

Ilham Hendrayana, salah seorang tokoh pemuda Kecamatan Leles menyatakan, semestinya Pemkab Cianjur lebih peduli dengan kondisi warga yang kesulitan air tersebut.

“Sebab kebutuhan air bersih untuk konsumsi, baik untuk minum dan lainnya sangat dibutuhkan oleh warga Desa Sukajaya,” kata Ilham.

Ilham pun mengkritik Pemkab Cianjur yang terkesan kurang memberikan perhatian pada Kecamatan Leles yang secara geografis memang terletak di bagian ujung Kabupaten Cianjur.

“Leles ini kan masih bagian dari Cianjur. Harusnya pemkab juga bisa memberikan perhatian sebagaimana daerah lainnya. Harusnya Bupati Cianjur yang turun kesini biar melihat langsung, lalu apa tindakannya,” katanya.(**)