Dua Rutilahu di Ciranjang Ambruk

RADARCIANJUR.com – Dua rumah tidak layak huni (rutilahu) di Kecamatan Ciranjang ambruk dan membuat para penghuninya mengungsi ke rumah kerabat terdekat. Selain lantaran karena usia, ambruknya dua rumah tersebut juga diakibatkan terjangan angin kencang beberapa waktu lalu.

Kedua rumah tersebut adalah milik Arkuan (50), warga Kampung Sirnagalih RT 03/09, Desa Mekargalih, Kecamatan Ciranjang. Sementara rumah kedua yang ambruk adalah rumah milik Dedi (38), warga Kampung Pasirkunci RT 04/11, Desa Nanggala Mekar, Kecamatan Ciranjang.

“Rumah kami ambruk diterjang angin, sejak ambruk kami langsung mengungsi,” kata Arkuan, Minggu (22/9).

Arkaun menceritakan, saat itu ada angin kencang menerjang di kampungnya. Angin kemudian dengan mudah memporak-porandakan rumahnya. “Pertama bagian dapur yang ambruk, terus ke bagian yang lainnya,” terang Arkaun.

Beruntung, sambungnya, saat itu ia dan keluarganya tengah berada di rumah bagian depan. Sehingga tidak sampai tertimpa reruntuhan bangunan rumahnya.

“Yang ambruk bagian dapur dulu, baru ke bagian yang lainnya,” ungap dia.

Ia mengakui, rumah semi permanen itu sebelumnya memang sudah cukup reyot lantaran dimakan usia. Di beberapa bagian rumah, sudah disangga dengan menggunakan bambu.

Selain itu, genting rumah miliknya itu juga sudah banyak yang bocor saat hujan turun. Sayangnya, rumah tersebut tak bisa menahan angin yang bertiup cukup kencang.

Karena itu, ia memilih langsung mengungsi ke rumah kerabat terdekatnya karena khawatir rumah tersebut roboh sewaktu-waktu.

“Kalau ditempati khawatir karena saya punya anak kecil, rumah saya posisinya dekat tebing juga,” terangnya.

Arkaun menyatakan, dirinya sudah beberapa kali melaporkan hal tersebut kepada pemerintah desa setempat untuk mengharapkan bantuan. Sayangnya, sampai kini, tak ada sepeserpun bantuan yang didapat.

Ia juga mendengar dari Ketua RT setempat sudah mengajukan bantuan perbaikan kepada pihak desa dan yayasan. Akan tetapi, hingga saat ini, belum ada bantuan yang diterimanya.

Karena itu, ia berharap pemerintah bisa memberikan bantuan agar ia bisa kembali membangun rumahnya. Terlebih, penghasilannya sebagai buruh serabutan jelas tidak akan mencukupi untuk membangun rumah baru.

“Saya kuli di sawah, hasil kuli tidak cukup untuk memperbaiki rumah. Selama ini rumah kami dihuni lima orang,” kata Arkuan.

Sementara itu, Dedi mengatakan, ambruknya rumah miliknya juga karena dikarenakan terjangan angin kencang. Selain itu, sejumlah tiang penyangga rumah juga sudah lapuk dimakan rayap.

“Kami bersyukur tak ada korban luka, ambruknya saat ada hujan pertama seminggu lalu. Saya tinggal beraama istri dan dua orang anak,” kata Dedi.

Dedi mengatakan, saat ini ia memilik mengungsi dan tinggal di rumah adiknya. Ia mengaku kejadian ambruknya rumah sudah dilaporkan ke pihak desa juga.

“Harapannya kalau ada bantuan saya ingin renovasi agar layak ditempati, saya terdaftar penerima program PKH,” kata Dedi.

Dedi mengaku sudah tiga kali datang ke desa namun belum ada respons juga. Di sisi lain, ia kini sudah tak bisa lagi bekerja. Pasalnya, sejak kecelakaan 1,5 tahun lalu, luka yang ia derita mengalami infeksi.

“Untuk kebutuhan sehari-hari mengandalkan pendapatan dari hasil mengojek,” katanya.(dil)