Pilkada Cianjur 2020, Demokrat – Golkar Koalisi?

RADARCIANJUR.com – Setelah empat partai Islam menggelar pertemuan untuk koalisi di Parlemen dan Pilkada 2020, kini Partai Demokrat dan Partai Golkar juga sudah melakukan penjajakan untuk koalisi.

Meski lewat obrolan santai, namun dari perwakilan parpol tersebut seperti memberikan sinyal positif untuk mengusung calon bupati dan calon wakil bupati yang sama di Pilkada 2020.

Sekretaris DPC Partai Demokrat Cianjur, Denny Aditya membenarkan jika komunikasi antara partainya dengan Partai Golkar sudah intens menuju koalisi. “Baik Partai Demokrat maupun Partai Golkar sudah memiliki chemistry atau kecocokan satu sama lainnya,” kata Denny.

Menurutnya, kecocokan tersebut sudah terjalin sejak lama, sehingga tidak ada sekat lagi untuk berkoalisi. “Sudah terjalin sejak lama dengan Golkar, di Jawa Barat pun kita berkoalisi pada waktu pemilihan gubernur (Pilgub), jadi tidak menutup kemungkinan bisa berkoalisi,” ujarnya.

Saat ini Partai Demokrat sendiri sudah memiliki satu nama bakal calon yang sudah diplenokan di tingkat DPD Partai Demokrat Jawa Barat yakni Wawan Setiawan. Nama tersebut merupakan kader utama Partai Demokrat yang akan maju di Pilkada 2020.

Di sisi lain, secara eksternal hingga kini belum dilakukan penjaringan balonbup, karena lebih fokus mengusung calon dari internal partai. “Dari eksternal belum dilakukan, kita masih fokus diinternal,” ungkapnya.

Denny pun tidak menampik jika ada partai lain yang ingin berkoalisi dengan partainya untuk mengusung calon di Pilkada. “Pintu koalisi juga terbuka dengan partai lain, selain dengan Partai Golkar bisa juga dengan PKB, PKS dan partai lainnya. Jadi sangat mungkin koalisi ini akan terjalin,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Cianjur, TB Mulyana Sjahruddin mengungkapkan hal yang sama. Kedekatan antara partainya dengan Partai Demokrat tersebut sudah terbangun sejak lama, sehingga peluang koalisi bisa saja terjadi.

Bahkan menurutnya, pilkada tahun depan ini sebagai bentuk menjadikan visi dan misi Cianjur lebih baik lagi. “Karena ini kontestasi, peluang untuk menang itu harus dipertimbangkan dan koalisi itu bukan semata kebutuhan memenuhi kursi dan memenuhi syarat minimal mencalonkan,” terangnya.

Lanjutnya, koalisi sendiri merupakan kebutuhan, sebagai daya dorong pada kontestasi dukungan, sehingga terciptanya tujuan yang mengarah kepada Cianjur yang lebih baik lagi.

Pihaknya pun berharap, pintu koalisi dalam pilkada ini tidak hanya dibuka salah satu pihak saja. Namun dibuka secara bersama-sama. Ia juga menyadari Golkar tak bisa mengusung pasangan calon sendiri karena memiliki 8 kursi di parlemen. Karena itu, Golkar butuh koalisi dengan partai lainnya. “Golkar kan mutlak harus koalisi,” ujarnya lagi.

Meski begitu, Partai Golkar Cianjur juga masih menunggu instruksi DPP Golkar untuk menentukan figur yang bakal maju pada kontestasi pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

“Kami juga masih menunggu juklak dan juknis dari DPP. Jadi, DPP itu baru sampai pada pemetaan terhadap kabupaten, kota, dan provinsi yang akan menggelar pilkada serentak,” terang Mulyana.

Selama pemetaan itu, kata dia, DPP akan melihat potensi dengan prioritas kader internal partai yang nanti bakal direkomendasikan maju. Sejumlah nama pun bermunculan. Namun Mulyana belum mau membuka siapa nama-nama yang sudah terpetakan itu. “Nah itu nanti akan dikombinasikan, tahapannya juga masih lama, masih ada waktu, bisa jadi di awal tahun,” terang Mulyana.

Menjawab soal majunya Herman Suherman yang merupakan Plt Bupati Cianjur yang sudah mendaftar ke PDI Perjuangan? Mulyana menanggapi santai kondisi tersebut. “Pak Herman itu masih kader Golkar. Ber-KTA Golkar. Gini, tidak mungkin seseorang itu beranggota dobel di partai A dan partai B. Tidak mungkin. Jadi, harus ada yang ditanggalkan,” ujarnya.

Kalaupun nanti Herman berpindah haluan menjadi kader PDI Perjuangan, menurut Mulyana, Golkar memiliki prinsip yakni prestasi, dedikasi, loyalitas, dan tidak tercela. Selain itu tentunya calon yang bakal dimunculkan harus memiliki popularitas dan elektabilitas.

“Prioritas calon yang bakal diusung itu kader. Kalau misalnya kader tidak memenuhi batas passing grade, maka akan bergeser ke nonkader,” pungkasnya.

(kim/net)