Seperti Ini Curahan Hati Orangtua Terduga Teroris di Takokak

KAGET: Kedua orang tua terduga teroris Rosid dan Nurjanah, yaitu Rosid (45) dikediamannya di Kampung Sirnasari RT 006/ 006, Desa Cisujen, Kecamatan Takokak. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Sepasang orangtua duduk di pelataran rumah panggung tepi jurang, disekeliling rumah berukuran 4 X 7 meter persegi itu terhampar perkebunan teh yang cukup luas, tampak air mata berlinang di masing-masing matanya.

Laporan: Fadilah Munajat, Takokak.

Mereka adalah Rosid (45) dan istrinya Nurjanah (43) warga Kampung Sirnasari RT 006/ 006, Desa Cisujen, Kecamatan Takokak yang sedang sedih karena anak dan menantunya ditangkap Densus 88 di Perumahan Alamanda Regency, Blok N, Jl. Nirwana II, Kelurahan Karang Satria, Kecamatan Tambun Utara Bekasi pada (23/9) sekira pukul 07.05 Wib.

Asep Roni (21) anak pertama pasangan Rosid dan Nurjanah, beserta istrinya Sutiyah (19) ditangkap Densus 88, karena diduga ada keterlibatan dengan jaringan Teroris.

Rosid tak menyangka jika anak pertamanya itu, bisa terlibat dengan jaringan teroris, karena selama ini tidak ada perilaku yang mencurigakan.

BACA JUGA : Miliki Bahan Peledak, Suami Istri di Takokak Ditangkap Densus 88

“Sejak kecil memang anak saya pendiam, jadi saya tidak tahu banyak tentang dia, terlebih sejak keluar SMP, Asep pergi merantau dan jarang pulang,”katanya (23/9).

Ia mengatakan, sejak keluar sekolah Asep pergi merantau ke Cimahi Bandung, selama diperantauan ia bekerja di rest area, depot isi ulang galon, hingga terakhir kerja di pabrik boneka. “Saat kerja di Bandung paling dia pulang kalau lebaran, kadang lebaran juga tak pulang,”ujarnya.

Ia menjelaskan, Asep sempat memberi kabar bahwa di perantauan sering ikut ke pengajian, di pengajian itu Asep belajar mengaji. “Saya tidak bertanya banyak karena memang saya awam tentang agama,” jelasnya.

Rosid mengatakan, sekitar satu bulan lalu Asep sempat pulang, dan membawa seorang perempuan yang menggunakan cadar berbaju hitam. Saat itu Asep meminta restu bawa ia akan menikah dengan perempuan tersebut. “Menikahnya di Bekasi, Walinya pakai wali hakim,”katanya.

BACA JUGA : Polisi Tangkap 9 Teroris di Jakarta dan Bekasi, Cek di Sini Nama-namanya

Menurut Rosid, hingga saat ini, ia belum pernah bertemu dengan orang tua istri anaknya itu, ia hanya berkomunikasi melalui telpon. “Kalau bertemu dengan besan belum pernah, paling bicara juga di telpon, itu juga hanya sekedar bicara bahwa dirinya merestui pernikahan anaknya dengan anak saya,”ujarnya.

Ia mengaku mengetahui anak dan menantunya ditangkap Densus 88, setelah ada beberapa orang polisi, dari Polsek Takokak yang memberi kabar. “Saya kaget saat menerima kabar itu, dan saya berusaha menyembunyikan kabar itu kepada istri, karena saya tahu ia punya penyakit jantung,” katanya.

Meski demikian, istrinya harus tahu kabar itu, karena jika tidak diberitahu, takut disalahkan oleh sang istri. “Saya berlahan-lahan memberitahunya, hingga akhirnya ia bisa menerima kabar itu dengan sadar,”kata Rosid.

Rosid mengatakan, terakhir ada komonikasi dengan anaknya sekitar pukul 21.00 wib, malam sebelum kejadian, dalam percakapan melalui telpon itu, ia sempat menyuruh anaknya untuk pulang. “Awalnya saya SMS dia menanyakan keadaannya, beberapa menit kemudian dia nelpon, dan saya menyuruh ia pulang kalau di sana tidak ada kerjaan,”katanya.

Rosid melanjutkan beberapa anggota kepolisian yang datang ke rumah, menyarankan agar ia pergi ke Jakarta untuk memastikan keadaan anaknya, pasca ditangkap oleh jajaran Densus 88.

“Saya harus kesana, tapi saya gak punya uang untuk ongkos, kerja saya hanya serabutan, jangankan buat ongkos, buat biaya hidup sehari-hari saja sulit,”katanya.

(dil)