Enam Bulan Warga Cibeber Krisis Air, Mandi Pakai Air Kolam Kotor

Warga menimba air dari sumur darurat untuk kebutuhan sehari-hari. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com -Kemarau yang masih belum berlalu, membuat warga di Cibeber kesulitan air bersih. Bahkan kondisi tersebut makin parah sejak sebulan terakhir.

Bukan hanya wawah-sawah warga yang kering. Tapi juga sumur-sumur milik warga yang kini sudah tidak lagi mengeluarkan air. Kalaupun ada airnya, sudah tidak mungkin dipakai lagi karena sangat sedikit dan berlumpur.

Darman (55), warga Kampung Pasanggrahan, Desa Cimanggu, Kecamatan Cibeber mengaku, dirinya harus lima kali bolak-balik ke sumur darurat yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya.

“Tiap hari saya ngambil air di sumur darurat karena sumur di rumah sudah tidak lagi mengeluarkan air,” kata Darman sambil menimba air untuk memenuhi ember yang dibawanya, ditemui Radar Cianjur, kemarin (24/9).

Jalan yang ditempuh Darman tak mulus. Dengan ember penuh air, ia masih harus berjalan melalui pematang sawah yang sempit. Sesekali, ia harus berhenti karena beratnya air dan memindahkan ember ke tangan satunya.

“Capek sebenarnya. Tapi kalau capek yang berhenti dulu, terus jalan lagi,” tutur pria yang kala itu mengenakan kaos putih dengan bagian punggung bawah lantaran keringat.

Darman mengaku kondisi tersebut memang tidak cukup mengenakkan. Akan tetapi, lantaran tak ada lagi sumber air bersih yang bisa dimanfaatkan, ia terpaksa melakukan hal serupa setiap hari.

“Ya bagaimana lagi kan enggak ada air. Kalau tidak mengambil di sumur darurat ya tidak punya air di rumah,” tuturnya.

Sementara, Salman (43) warga Desa Cibaregbeg mengaku, air sangat sulit didapat di wilayahnya. Bahkan, setiap pagi, warga memanfaatkan air dari sebuah kolam yang airnya sudah kotor.

“Kalau setiap pagi banyak warga yang mengambil ke sini (kolam),” bebernya.

Karena kotor, berwarna dan sedikit berbau, air itu lebih dulu ditampung warga untuk kemudian baru bisa dipakai keesokan harinya. “Sudah enggak ada lagi sumber air, jadi terpaksa,” tuturnya.

Bahkan, ia mengungkap, ada warga yang terpaksa membeli air galon isi ulang untuk kebutuhan MCK. Pasalnya, warga enggan menggunakan air kolam tua di desa tersebut untuk kebutuhan MCK.

“Ada yang seperti itu (mandi pakai air galon). Makanya tolonglah warga disini sudah sangat kesulitan air,” ujarnya.

Sementara, Camat Cibeber, Ali Akbar menyatakan, kesulitan air yang dialami warga itu sudah berjalan sejak enam bulan terakhir. Utamanya di wilayah Cibeber Timur.

Hal itu terjadi selain musim kemarau, juga lantaran diakibatnya jebolnya tanggul Sungai Cikondang.

“Ada tujuh desa yang sulit untuk mendapatkan air yaitu Desa Karangnunggal, Salamnunggal, Cibaregbeg, Sukamaju, Sukaraharja, Girimulya, dan Cimanggu,” ungkap Ali Akbar.

Menurut Ali, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari selain mengandalkan air galon isi ulang, dan air sungai warga juga membuat sumur darurat di sawah yang saat ini tidak bisa digunakan untuk bercocok tanam.

“Untuk kedepanya, para kepala desa, sudah disarankan untuk membuat sumur artesis dan bak penampungan dengan menggunakan dana desa,” kata Ali.

Lanjut Ali sebagai upaya untuk mengatisipasi kekeringan pemerintah dan warga membut sodetan di sungai Cikondang, namun upaya itu tak membuahkan hasil, karena debit airnya minim sehingga tidak bisa dialirkan ke pemukiman warga.

“Selain kesulitan air bersih, 1.007 hektar sawah juga tak bisa digarap karena tidak ada air,” pungkasnya.(dil)