Melihat dari Dekat Debus di Padepokan Maung Bodas Siliwangi

Anggota Padepokan Maung Bodas Siliwangi memperagakan kekuatanya dengan cara menggesekan senjata tajam ke kepala dan lidah. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Masihnya era digital dewasa ini, bak dua sisi mata uang. Di satu sisi, makin memudahkan dan efisiensi masyarakat dalam setiap pemenuhan kebutuhan. Di sisi lain, tak sedikit tradisi yang mulai jarang ditemui. Salah satunya adalah debus. Aksi dan pertunjukkan kekebalan tubuh itu pun kini sudah mulai jarang ditemui. Padahal, sejatinya, debus adalah seni yang penuh dengan kearifan lokal.

LAPORAN: Fadilah Munajat, WARUNGKONDANG

Satu persatu-persatu benda pusaka dipindahkan dari kotak kecil ke meja pajangan diiringi kebulan asap dari tungku kecil yang terus membakar kemenyan. Bau wangi kemenyan pun menyeruak memenuhi setiap sudut salah satu ruangan di Padepokan Maung Bodas Siliwangi.

Lantunan doa-doa yang dilafalkan sejumlah orang pun menambah aura mistis yang begitu terasa. Perlahan, suasana menjadi lebih hening dan khidmat.

Beberapa saat kemudian, sederet prosesi sudah dijalankan. Kini, prosesi beralih di luar ruangan. Suasana yang sebelumnya, digantikan dengan lantunan terompet beriringan dengan pukulan gendang yang menggema tegas.

Satu per satu anggota Paguyuban Maung Bodas Siliwangi turun ke arena memperegakan sejumlah gerakan. Gerakan silat yang diiringi dengan musik tradisional. Rancak tapi seirama.

Sebagian anggota lainnya mengenakan pakaian hitam-hitam. Ditambah dengan pernak-pernik seperti kalung yang dihias dengan biji-bijian serta tulang belukang atau tengkorak hewan.

Di pingangnya, terpasang sabuk kulit yang sekelilingnya dihiasi dengan batu akik aneka ragam dan warna.

Tanpa banyak kata, mereka langsung turun ke arena mempertunjukkan kemampuan kebal. Kemampuan tak tergores sedikitpun kendati ditebas senjata tajam.

Satu golok diambil masing-masing. Sebatang tebu tak ketinggalan. Batang tebu itu lantas dipotong-potong menggunakan golok. Untuk memastikan, golok it u benar-benar tajam.

Setelah yakin bahwa golok tersebut benar-benar tajam, golok tersebut lantas ditebaskan kepada setiap anggota padepokan yang ikut dalam atraksi debus itu.

Tangan, kaki, perut, dada, punggung, bahkan sampai lidah pun tak luput dari tajamnya golok itu. Tapi tak ada darah yang mengucur. Tak ada luka yang menganga. Bahkan golok itupun tak sedikitpun meninggalkan goresan di atas kulit.

Atraksi-atraksi seperti itu memang sering dilaksnaakan di Padepokan Maung Bodas Siliwangi yang beralamat di Kampung Benteng Desa Sukamulya Kecamatan Warungkondang.

Ketua Padepokan Maung Bodas Siliwangi Iman Nurjaman mengatakan, dilaksanakanya atraksi-atraksi kebal dari senjata tajam itu, bukan semata-mata untuk ujub dan takabur.

Pentas seni debus yang sering dilaksanakan itu merupakan bagian dari seni kearifan lokal Padepokan Maung Bodas Siliwangi.

“Kegitan-kegiatan ini bagian dari wisata realigi di Padepokan Maung Bodas Siliwangi,” kata Iman.

Iman mengatakan, selain atraksi debus dan maenpo, ke depanya Padepokan Maung Bodas Siliwangi juga akan membangun museum untuk memajangkan pusaka-pusaka peninggalan leluhur.

“Ada banyak pusaka peninggalan leluhur. Agar bisa memancing wisatawan, kami akan membangun museum untuk memajangkan pusaka-pusaka itu,” katanya.(**)