Pengakuan Mahasiswa Cianjur di Tengah Demo Rusuh di Depan DPR

BERJUANG: 40 mahasiswa dari Fakultas Hukum (FH) Universitas Suryakancana (Unsur) Cianjur ikut menggelar aksi di Senayan, Jakarta. FOTO: BEM KM Unsur Cianjur For Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Selasa 24 September bak dejavu. Puluhan ribu mahasiswa dari Jabodetabek turun ke jalan, menyemut di depan Komplek Parlamen, Senayan, Jakarta Pusat. Pemandangan yang nyaris sama saat 21 Mei 1998 silam. Bedanya, kali ini, untuk menolak RUU KPK, RKHUP, serta sejumlah Undang-undang lain yang dianggap penuh kontroversi. Aksi itu pun akhirnya berujung kericuhan. Dari puluhan ribu mahasiswa itu, ada 40 mahasiswa asal Cianjur.

LAPORAN: Abdul Aziz N Hakim, CIANJUR

Wamen Infokom BEM KM Universitas Suryakancana (Unsur) Cianjur, Salman menceritakan sedikit demi sedikit mengenai pengalamannya bersama dengan mahasiswa lainnya yang menggelar aksi di Gedung DPR RI Senayan, Jakarta. Ada rasa bangga dan haru yang dirasakannya, unjuk rasa secara besar-besaran kemarin merupakan pengalaman pertamanya.

Pada tanggal 24 September 2019, 40 mahasiswa Unsur Cianjur berangkat menuju Senayan menggunakan kendaraan umum yakni bus. Siang itu setelah menggelar aksi teatrikal di lingkungan universitas, beberapa mahasiswa yang akan melanjutkan aksi menuju Jakarta pun didata oleh pihak Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM).

BACA JUGA : Diduga Akan Ikut Demo ke Jakarta, Ratusan Pelajar Diamankan Polres Cianjur

Segala persiapan pun mulai diperhitungan dari mulai konsumsi hingga untuk biaya pemberangkatan. Dengan penuh solidaritas, BEM KM melakukan penggalangan dana kepada sejumlah mahasiswa dan juga staf universitas.

Berangkat dari pukul 12.30 WIB, 40 mahasiswa melakukan perjalanan melalui jalur puncak dengan menggunakan pakaian biasa tanpa menggunakan almamater. Hal tersebut agar bisa tembus penjagaan di perjalanan. Bahkan, rute bus yang ditumpangi pun diganti dengan tulisan pariwisata.

Setibanya di Senayan, Jakarta, ternyata keadaan di luar dugaan. Beberapa mahasiswa sudah chaos, namun 40 mahasiswa Unsur terus merangsek ke depan. “Kita semua pas sampai maju ke depan sambil merapatkan barisan, di saat mahasiswa lain mundur, kita malah maju,” ujarnya.

Namun hal tersebut tak berselang lama, tembakan gas air mata mengharuskan mereka mundur. Secara detil, Salman menceritakan keadaan kala itu. Tak ada rasa takut sedikit pun, semua demi perjuangan rakyat.

Lantang. Teriakan demi teriakan menjadi semangat untuk terus maju dan bertahan. Namun, salah satu mahasiswa Unsur Cianjur sempat terpisah dari rombongan. Pada saat itu, Salman yang juga sebagai koordinator kelompok aksi seketika tegang dan keringat dingin bercucuran.

Tak berselang lama, rekannya tersebut menghubunginya dan berkata tak berdaya di depan gedung DPR RI. Tak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dirinya pun bersama mahasiswa lainnya menuju lokasi tersebut dan mendapati rekannya terkapar dengan nafas yang berat.

“Pas kita udah beres bentrok, ada salah satu mahasiswa terpisah dari kita. Gak lama, dia telepon mengabari kondisinya yang terkapar karena gas air mata di depan gerbang,” paparnya.

Dirinya pun mengurungkan untuk melanjutkan aksi dan tak ingin menjadi tambah beresiko. Akhirnya semua mahasiswa mencari tempat peristirahatan di pemukiman warga di sekitar Gedung DPR RI.

Nampaknya dewi fortuna berpihak kepada mahasiswa Unsur Cianjur. Tak diduga-duga, mereka mendapatkan tempat istirahat yang nyaman yakni di sebuah komplek perumahan yang cukup mewah. Bahkan beberapa warga menyambut dengan baik. Tak sedikit makanan dan minuman disuguhkan untuk mereka.

“Kita dapet tempat istirahat enak kang, memang awalnya kita sopan izin dulu untuk numpang istirahat tapi malah dapet lebih dari nyaman,” jelasnya.

Meski sudah mendapatkan tempat untuk beristirahat serta tempat aman. Namun pada tengah malam, dirinya mendapatkan kabar bahwa pihak kepolisian sedang melakukan sweeping. Ikhlas dan berdoa. Itulah yang dilakukannya, pasrah apa yang akan terjadi dan berserah diri. Namun nampaknya pihak kepolisian tidak mendatangi tempat peristirahatan mereka.

Hingga keesokan harinya, sebagian mahasiswa pulang lebih awal menggunakan travel dan 25 lainnya bertahan sembari menanti rekannya yang belum pulih. Pada pukul 10.00 WIB, Salman dan 25 mahasiswa lainnya pun kembali pulang ke Cianjur. Tapi saat akan kembali, dirinya sama sekali tak memiliki ongkos untuk pulang.

Dengan sigap, dirinya langsung menghubungi rekan-rekan di Unsur Cianjur untuk melakukan penggalangan dana kembali agar bisa pulang ke Cianjur. Lagi dan lagi. Warga sekitar yang sedang melintas nampaknya berbaik hati dan sangat merasakan perjuangan mahasiswa asal Kota Taucho ini. Tanpa basa basi, seorang ibu memberikan sejumlah uang dengan nominal satu juta rupiah untuk ongkos pulang.

“Udah minta donasi ulang, tapi gak nyangka malah dapat dari warga sekitar untuk ongkos pulang. Tapi dari rekan-rekan serta pihak kampus juga turut mentransfer uang,” tutupnya.(**)