Petani Cianjur jadi Tumbal Demo di Jakarta

Petani Sayur
PANEN: Salah seorang petani cabai di Kecamatan Cipanas tengah memanen hasil taninya. Kendati harga sayuran saat ini sangat anjlok.FOTO: DADAN SUHERMAN/ RADAR CIANJUR

RADARCIANJUR.com – Aksi unjuk rasa yang terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta selama beberapa hari kemarin, ternyata berimbas pada petani sayur mayur di Cipanas.

Pasalnya, sejak kerusuhan yang terus terjadi di Ibukota, penjualan hasil panen terus mengalami penurunan. Diperkirakan, penurunan sampai dengan 50 persen. Baik harga sayur dari petani ke tengkulak, hingga ke penjual di lapak-lapak pasar tradisional di Jakarta.

Cep Busyrol (35), seorang petani warga Sindanglaya, Kecamatan Cipanas mengaku, sejak pecahnya kerusuhan akibat aksi demo di Jakarta sejumlah hasil panen mengalami penurunan.

Di antaranya wortel. Dari semula diterima oleh tengkulak Rp6.000 hingga 7.000 per kilogram, kini hanya dihargai Rp3.000 saja.

“Dampaknya itu sudah hampir sepekan. Walaupun tidak semua harga mengalami penurunan, tetapi yang paling dominan itu ketika ada peristiwa di Jakarta, pasti saja penjualan di pasar akan merosot. Ujung-ujungnya juga ke petani lagi,” kata Busyrol, Selasa (2/10).

Busyrol menuturkan, dampak dari setiap kejadian apapun di Jakarta, khusus ke para petani itu pasti ada. Entah harga sayur yang anjlok, hingga hasil panen yang tak bisa dipasarkan.

Bahkan jika dipaksa untuk dipasarkan sekalipun, ujung-ujungnya kembali lagi ke tengkulak, kemudian ke petani lagi.

“Kalaupun bisa dipasarkan ke Jakarta juga sisa sayur yang gak laku balik lagi ke kita sebagai petani. Dan akhirnya ya terbuang percuma,” ungkapnya.

Dampak tersebut, dikatakan Busyrol, bisa berlangsung hingga dua pekan, bahkan lebih. Menurutnya, fenomena itu memang sudah sering terjadi.

Hanya saja, dengan kondisi saat ini, ibarat pepatah ‘sudah jatuh tertimpa tangga’.

“Bayangkan saja, sudah musim kemarau dan kurang pasokan air, ditambah kemarin-kemarin ada kerusuhan, itu yakin pasti akan berdampak kepada kita sebagai petani. Bahkan kerugian kami itu bisa mencapai 50 persen dari biasanya,” bebernya.

Busyrol berharap, kerusuhan itu tak terus menerus terjadi. Pasalnya, ketika rusuh, pemasaran menjadi tersendat sedangkan panen tak bisa ditunda.

“Pernah waktu itu juga orangtua saya kerugian hingga puluhan juta akibat adanya kejadian di Jakarta. Mudah-mudahan saja secepatnya baik harga maupun penjualan sayur mayur kembali normal,” harapnya.

Sementara itu, Edih (51) seorang tengkulak sayur di Cipanas mengakui memang ada penurunan penjualan dari pedagang di beberapa pasar di Jakarta. Hal itu juga berdampak terhadap omset dirinya sebagai pengepul sayur mayur dari petani mencapai 30 persen.

“Biasanya hasil kotor dari menjual ke pedagang (di Jakarta) itu bisa mencapai Rp1 juta. Sekarang anjlok jadi Rp300 ribu setiap satu kali pengiriman barang ke Jakarta,” terangnya.

Diakui Edih, dampak tersebut telah dialaminya sejak lima hari terakhir. Menurutnya, walaupun tidak bersentuhan langsung dengan wilayah terjadinya konflik, tetapi para pembeli yang biasanya ke pasar, jadi mengurungkan niatnya untuk berbelanja. Akibatnya, pasar mengalami penurunan penjualan.

“Kalau pasokan tetap normal. Tapi kalau pas begitu ngirim, terus terjadi sesuatu (kerusuhan) di Jakarta, pasti barang yang dikirim akan sia-sia. Itu dipastikan keesokan harinya gak bisa dijual dan merugi,” pungkasnya.

(dan)