Batik Cianjur, Nasibmu Kini

RADARCIANJUR.com – Hari Batik Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Oktober nampaknya menjadi momentum untuk melestarikan batik. Berbagai daerah memiliki batik khas masing-masing yang menjadi kebanggaan. Seperti halnya Kabupaten Cianjur.

Batik Cianjur sendiri tidak kalah dengan batik lainnya yang memiliki nilai jual. Namun, Batik Cianjuran yang menjadi kebanggaan harusnya didorong Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Cianjur agar lebih dikenal dan tidak diklaim oleh daerah lain.

Saat ini, pegiat atau pengerajin batik di Kabupaten Cianjur sendiri tidak sebanyak dulu. Beberapa diantaranya gulung tikar yang disebabkan promosi serta kurang perhatian dari Pemda Cianjur. Dari belasan pembatik, kini hanya tersisa tiga orang saja.

Pembatik Cipandawa, Ahmad Fikri mengatakan, kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan, terlebih dalam satu tahun terakhir.

“Sebetulnya pembatik di Cianjur awal ada belasan, tapi setiap tahun turun dan saat ini hanya tiga orang yang masih bertahan,” ujarnya.

Kendala terbesar di Cianjur yakni peran serta Pemda Cianjur untuk memajukan batik Cianjuran. Walaupun beberapa tahun yang lalu di masa kepemimpinan bupati sebelumnya cukup memberikan perhatian kepada pembatik Cianjuran.

Namun tahun berganti dan pemimpin berganti, perhatian tersebut mulai pudar dan bahkan tidak ada. Bahkan dirinya pernah berdiskusi dengan para pembatik mengenai kualitas dan mutu. Namun, kualitas dan mutu sudah diciptakan tapi promosi dan pasar tidak memiliki jalur maupun akses.

“Untuk promosi dan pasar kita bingung, akhirnya pengerajin rata-rata bermain sendiri seperti kita mencari order sendiri serta memberikan keyakinan mengenai batik Cianjuran yang tak kalah dengan daerah lain,” paparnya.

Bukan hanya itu, para pembatik pun berharap ada perhatian khusus yang tidak hanya melakukan pembinaan namun juga harus memiliki hak cipta agar tidak diambil.

Selain itu, pembinaan yang selama ini dilakukan terhadap pelaku batik. Baik itu pengerajin maupun penjual. Seharusnya pembinaan itu dilakukan terhadap masyarakat di bawahnya. Sehingga kejarinan batik ini bisa menjadi penghasilan lainnya untuk masyarakat.

“Sementara dinas melakukan pembinaan bukan untuk masyarakat yang bukan pembatik, tapi untuk pelaku batik yang ada di Cianjur,” jelasnya.

Terpisah, Ketua Lembaga Pengkajian, Pengembangan, Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (LP3EM) Kabupaten Cianjur, Harry M Sastrakusuma mengungkapkan, batik Cianjuran sendiri sudah dipatenkan sejak tahun 2014 seperti ciri khasnya yakni batik beasan.

Dengan berkurangnya pengerajin batik di Kabupaten Cianjur sudah meminta kepada Pemda Cianjur agar mengarahkan para ASN untuk menggunakan Batik Cianjuran. Namun, faktanya, hal tersebut tidak didukung.

“Kita lihat faktanya, sudah kita coba komunikasi namun tidak didukung. Bahkan hanya tinggal memberikan arahan untuk membeli sebagai bentuk dukungan kepada batik lokal,” terangnya.

Pihaknya pun saat ini mencoba kembali untuk mendorong pemerintah agar bisa melakukan pelatihan dan membantu pemasaran kepada pengerajin batik serta menginstruksikan seluruh ASN untuk menggunakan Batik Cianjuran.

Selain sebagai wujud mendorong kembali para pengerajin batik lokal, hal tersebut menjaga kelestarian Batik Cianjuran.

(kim)