Melihat Perjuangan Perajin Gamelan yang Makin Tersisih di Era Modern, Tetap Bertahan Meski Dicueki

Kepala Desa Cibadak Elan Hermawan sedang memberikan bantuan las listrik pada pengrajin gambelan. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Di era modern ini, makin beragam alat musik modern serta jenisnya yang dengan cepat diterima masyarakat. Selain dianggap lebih mudah memainkannya, alat musik modern juga dinilai lebih simpel dan nge-tren. Tapi di sisi lain, alat musik tradisional seperti gamelan pun makin terpinggirkan. Kini, para perajin gamelan pun hanya bisa pasrah dan bertahan.

LAPORAN: Fadilah Munajat, CIBEBER

Dadan (50), perajin gambelan di Desa Cibadak, Kecamatan Cibeber ini tetap bertahan meski saat alat-alat musik gamelan kurang diminati kalangan muda.

Dengan memanfaatkan limbah besi, sudah puluhan tahun ia terus bergelut membuat gamelan. Gamelan yang dibuat Dadan terdiri dari 24 jenis yang hampir semuanya harus dikerjakan secara manual.

Pasalnya, penyetelan tangga nada gamelan sampai saat ini masih harus manual dan mengandalkan kepiawaian pembuatnya. Sehingga, hasil pembuatan gamelan bukan hanya alat musik biasa, tetapi juga memiliki nilai seni yang tinggi.

“Besi yang digunakan merupakan limbah besi bekas peer dengan kualitas baik,” kata Dadan.

Meski untuk penyetelan nada harus secara manual, namun untuk pengerjaan di era modern ini, dibutuhkan juga alat-alat yang modern agar bisa mempercepat produksi.

“Kalau dulu untuk menyambung besinya digunakan alat patrian, kalau sekarang bisa lebih cepat dengan menggunakan las listrik,”katanya

Gamelan-gamelan yang diproduksi di Desa Cibadak ini, bisa dikatakan yang terbaik di Cianjur. Apalagi saat ini produksi gambelan mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa setempat. Baru-baru ini, para perajin gamelan di Desa Cibadak mendapat bantuan las listrik dari perintah desa.

Kepala Desa Cibadak Elan Hermawan mengatakan, para perajin gambelan diberi bantuan las listrik agar mereka bisa lebih fokus dalam bekerja sehingga mereka bisa mempertahankan kualitas gamelan tanpa harus memikirkan biaya untuk membeli peralatan.

“Bantuan las listrik yang diberikan pada perajin gamelan merupakan bagian dari pemberdayaan, sehingga kami bisa menganggarkan dari dana desa,” kata Elan.

Menurut Elan, selain para pengrajin gambelan, pemberdayaan masyarakat juga dilakukan pelatihan kepada para pemuda yang belum mempunyai ketrampilan

“Kalau para pengrajin gambelan diberi bantuan las listrik, sementara pemuda yang belum mempunyai ketrampilan dilatih untuk belajar memggunakan las listrik,” kata Elan.

(**)