Melihat Mata Air Babakan Caringin yang Tak Pernah Kering Walau Musim Kemarau

Warga sedang mengambil air dari mata air yang tak pernah kering. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Kemarau panjang tahun ini membuat sumber mata air di berbagai daerah mengering. Bahkan tak sedikit juga daerah yang mengalami krisis air bersih. Kendati bak pepatah ‘mencari jarum di tumpukan jerami’, warga pun mencari sumber-sumber air bersih yang masih bisa dimanfaatkan. Namun bagi warga Desa Babakan Caringin, sedikit lebih beruntung karena memiliki mata air.

LAPORAN: Fadilah Munajat, KARANGTENGAH

Akibat musim kemarau ini, banyak dijumpai sumur-sumur milik warga di Kabupaten Cianjur yang mulai mengering. Pun demikian halnya dengan sawah dan kebun.

Warga pun dipaksa mendatangi sumber-sumber air yang masih bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti di sungai yang masih menyisakan debit air, kendati sangat berkurang.

Ada pula warga yang terpaksa menggunakan air kolam yang kotor dan berbau. Bahkan, ada pula warga yang terpaksa membeli air galon isi ulang untuk sekedar bisa mandi.

Namun tak demikian halnya dengan masyarakat Desa Babakan Caringin, Kecamatan Karangtengah ini. Musim kemarau yang di daerah lain membuat warganya kalang-kabut, sebaliknya, warga desa tersebut justru sama sekali tak khawatir bakal kekurangan air bersih.

Pasalnya, di desa tersebut, terdapat sumber air yang terus menerus mengeluarkan air. Biarpun kemarau panjang sekalipun. Yang cukup unik, sumber air tersebut cukup kontras dengan kondisi di sekitarnya.

Padahal, sawah-sawah di sekitarnya sudah mengering. Bahkan tak sedikit yang tanahnya pecah-pecah.

Mata air yang terletak sekitar 300 meter dari Kantor Desa Babakan Caringan ini, selalu diserbu banyak warga setiap musim kemarau datang. Meraka datang dengan membawa berbagai wadah untuk mengambil airnya guna kebutuhan sehari-hari.

Deni Setiabudi, tokoh masyarakat setempat mengatakan, sumber mata air yang berada di tengah sawah itu ditemukan warga sekitar tujuh tahun yang lalu.

Sumur itu ditemukan saat musim kemarau. Entah apa penyebabnya, saat warga kesulitan mendapatkan air bersih, tiba-tiba ada air yang menyembur dari permukaan tanah.

Mengetahui hal tersebut, warga langsung berbondong-bondong mengambil airnya. “Karena kan waktu itu warga juga butuh air bersih. Makanya warga langsung berdatangan,” terangnya.

Sejak saat itu, lanjutnya, sumber mata air tersebut selalu dimanfaatkan warga ketika musim kemarau datang. “Mau musim hujan atau kemarau, airnya tetap jernih dan bersih. Tidak bau,” jelasnya.

Karena dinilai bersih, kata Deni, warga pun kerap mengkonsumsi air tersebut secara langsung. “Enggak pakai dimasak dulu, bisa kok langsung dikonsumsi,” beber dia.

Lantaran banyaknya masyarakat yang mengambil air saat musim kemarau tiap tahunnya, atas kesepakatan bersama, akhirnya dibuat penampungan air yang terbuat dari beton.

“Ini atas inisiatif warga sendiri. Biar semua kebagian dan tidak rebutan. Selain itu juga untuk menjaga sumber air sendiri,” kata dia.

Mamat (47), warga setempat mengaku sangat beruntung memiliki sumber air tersebut. Pasalnya, di daerah lain belum tentu memiliki sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.

“Soalnya setiap musim kemarau kan pada kekeringan. Tapi alhamdulilah, biarpun sawah-sawah kering, tapi masih ada sumber air yang bisa dikonsumsi,” ucap dia.

Karena itu, warga pun bersepakat untuk sama-sama menjaga sumber air tersebut agar tidak rusak. “Biar tetap memberikan manfaat kepada semua warga,” tutupnya.(**)