Kesaksian Korban Longsor Kanoman, Tanah Berguncang, Muncul Cahaya di Balik Bukit

Tanah longsor dari tebing setinggi 30 meter menghantam hingga menutupi sebelah rumah warga di Kampung Cirawa, Desa Kanoman, Kecamatan Cibeber. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur.

RADARCIANJUR.com – Setelah sekian bulan tanpa hujan, Cianjur dan sekitarnya akhirnya diguyur hujan lebat. Sampai tiga jam lamanya. Warga pun mengucap syukur dengan turunnya hujan tersebut. Namun hujan itu menjadi duka bagi warga Kampung Cirawa, Desa Kanoman, Kecamatan Cibeber. Sebab, hujan lebat itu menjadi pemicu longsor yang merenggut nyawa sepasang pengantin baru, Muhamad Hendri (21) dan Siti Masrupah (21).

LAPORAN: Fadilah Munajat, CIBEBER

Sore itu, awan mendung sudah bergelayut di atas Cibeber. Angin dingin pun sudah membawa aroma air hujan. Hal yang sudah ditunggu-tunggu warga setelah sekian bulan lamanya melalui musim kemarau yang membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih dan sawah-sawah yang mengering.

Sejumlah kaum adam di kampung tersebut pun tampak berada di atas genting. Memperbaiki genting untuk ‘menyambut’ hujan pertama itu yang sekaligus mengakhiri musim kemarau tahun ini.

Sementara Iwan (39), turun dari bukit kecil di salah satu sudut kampung tersebut dengan membawa sekarung rumput. Rumput yang akan diberikannya untuk kambing milik majikan yang dipeliharanya, yang menjadi tanggungjawabnya.

BACA JUGA : Korban Longsor di Kanoman Sepasang Pengantin Baru, Ditemukan Tewas Dalam Posisi Berpelukan

Rumput-rumput segar itu sepertinya sudah ditunggu oleh sejumlah kambing di kandang yang ia buat tak jauh dari rumahnya itu. Dalam sekejap, rumput hijau itu dilahap kambing-kambing tersebut.

Di sisi lain, awan mendung tak lagi menyisakan ruang untuk sinar petang menembus. Hanya ada angin yang cukup kencang bertiup. Tak selang berapa lama kemudian, rintik hujan pun turun.

Bukan gerimis, tapi hujan yang cukup lebat. Yang langsung membasahi tanah-tanah kering yang sekian bulan terakhir tak henti-hentinya menerima paparan teriknya matahari.

Hujan lebat itu pula yang membuatnya tak bisa pulang. Karena itu, Iwan memilih untuk berteduh di kandang kambing. Setidaknya menunggu sampai hujan reda.

“Hujan besar, daripada baju basah mending diam dulu di sini (kandang kambing),” kata Iwan.

Dua jam sudah berlalu, tapi hujan tak kunjung reda. Langit yang gelap berganti merah. Sementara, lampu-lampu penerangan di rumah warga yang biasanya sudah menyala, petang itu tidak menyala. Listrik lebih dulu padam. Suara Adzan pun tak lagi terdengar.

Tanpa diduga, Iwan mendengar suara gemuruh yang cukup keras. Tanah yang dipijaknya pun bergetar. Suara itu ternyata berasal dari bukit di sisi selatan. Bukit setinggi lebih kurang 30 meter.

“Tiba-tiba dari bukit, cahaya muncul lalu disusul dengan longsoran tanah yang bercampur air menimpa rumah keponakan (Muhamad Hendri),” ujar Iwan.

Posisi rumah milik Muhamad Hendri, yang awalnya berjarak sekitar tiga meter dari rumah milik Iwan telah bergeser hingga nyaris rapat. Longsoran tanah dari tebing menghantam tembok rumah hingga ambruk dan masuk menutupi seluruh ruaangan rumah.

Melihat hal itu, dada Iwan langsung berdegup kencang. Di dalam rumah itu ada Muhamad Hendri dan Siti Masrupah yang baru empat bulan menikah. Iwan pun meneriakinya. Namun pasangan pengantin baru itu tak menyahut panggilan Iwan.

“Hedri, Hendri, Siti, Siti,” teriak iwan sambil berlari menuju rumah keponakanya.

Berkali-kali Iwan meneriaki pasangan suami-istri itu. Mamun mereka tak menyahutnya. Iwan pun makin cemas, hingga berteriak minta tolong.

Warga yang mendengar teriakan Iwan langsung mendatanginya dan ikut memcari Muhamad Hendri dan Siti Masrupah di dalam reruntuhan rumah yang tertimbun tanah longsor.

“Yang saya cemaskan mereka, karena meski rumah saya juga tertimbun, saya melihat istri saya keluar sehingga saya tak begitu mencemaskanya,” tutur Iwan.

Sudah lebih dari satu jam Iwan dibantu warga sekitar mencari Muhamad Hendri dan Siti Masrupah namun tidak ditemukan tanda-tanda keberadaanya. Warga pun mutuskan melaporkan kejadian itu ke aparatur desa setempat hingga selanjutnya dilaporkan ke pemerintah kecamatan dan BPBD Kabupaten Cianjur.

Mendapati laporan itu, tim dari BPBD dibantu TNI dan Polri ikut membatu mencari Muhamad Hendri dan Siti Masrupah hingga akhirnya mereka ditemukan di bawah reruntuhan rumah yang tertimbun tanah.

Tepatnya di dalam kamar depan dengan kondisi sudah tidak bernyawa. Kedua jenazah ditemukan ditemukan dalam keadaan berpelukan.

“Awalnya mereka berda di ruang tamu, mungkin karena terseret reruntuhan rumah dan tanah longsor, posisi mereka jadi pindah ke dalam kamar,” tutup Iwan sambil meneteskan air mata dari kedua matanya.(**)