Jangan Beri Stigma Negatif ODGJ

PERAWATAN: 58 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dirawat di Istana Komunitas Sehat Jiwa yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. FOTO: Hakim/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – 10 Oktober 2019 menjadi Hari Kesehatan Jiwa Internasional yang diperingati di seluruh dunia termasuk Indonesia. Di hari kesehatan jiwa ini, gangguan jiwa masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan. Menurut World Health Organization (WHO), ada satu dari 1000 populasi manusia di Indonesia atau hampir 14,4 juta orang mengalami gangguan jiwa.

Sementara itu, di Kabupaten Cianjur sendiri terdapat kurang lebih 2.575 orang mengalami gangguan jiwa. Selain itu, beberapa masyarakat masih belum mengerti dalam menangani maupun mengendalikan ODGJ. Rata-rata, masyarakat di pedesaan lebih memilih memasung daripada harus diobati maupun dibawa ke tempat rehabilitasi.

Di Istana Komunitas Sehat Jiwa (KSJ), terdapat 58 ODGJ yang menjalani pengobatan dan melakukan rehabilitasi. Dari total tersebut, bukanlah dari Kabupaten Cianjur diantaranya adalah dari Kota Padang dua orang, Bengkulu satu orang, Surabaya satu orang, Bogor satu orang dan 53 orang dari Kabupaten Cianjur.

Yang menjadi prioritas di Istana KSJ yakni korban pasung, gelandangan dan titipan yang memang perlu diobati serta diperhatikan.

“Yang menjadi prioritas disini seperti korban pasung, gelandangan dan titipan dari pihak keluarga maupun instansi lain,” ujar Ketua
Lembaga Kesejahteraan Sosial Istana KSJ Kabupaten Cianjur, Nur Hamid Karna Atmaja.

Di peringatan hari kesehatan jiwa internasional ini, ia berharap masyarakat bisa lebih meningkat dalam pemahaman tentang masalah kejiwaan dengan cara menghadiri acara forum-forum edukasi di lintas sektoral di berbagai level. Sehingga mengentahui cara penanganannya dan tindakan yang harus dilakukan.

Jika masyarakat mengerti dalam menanganinya, tentu hal seperti pemasungan bisa dihindari dan tidak dilakukan. Selain itu, penanganan yang terbaik pun bisa memberikan kesembuhan.

“Kalau pada umumnya sembuh, tapi sesuai dengan penanganannya dari mulai memberikan obat yang rutin dan tidak terlewatkan,” tuturnya.

Sebelumnya, pada lima minggu yang lalu membebaskan tiga pasien korban pasung di Kecamatan Naringgul bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur, Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Cianjur, kepolisisan dan camat.

Dua orang sudah pulang, satu masih di KSJ karena keluarga belum siap menerima. Banyak faktor yang menjadikan orang tersebut gangguan jiwa yakni dari masalah ekonomi, rumah tangga dan tekanan hidup.

“Kalau masalah pasung itu sebetulnya kita tidak bisa menyalahkan juga pihak keluarga, biasanya itu dilakukan atas dasar sayang. Takut diamuk warga, takut merusak dan hal-hal yang tidak diinginkan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Cianjur, Amad Mutawali menuturkan, saat ini pihaknya sudah menangani ODGJ kurang lebih 100 orang.

“Dalam menangani ODGJ di Kabupaten Cianjur, kita memiliki tim relawan-relawan yang bertugas saling berkoordinasi, melakukan pembebasan pasung dan juga pendataan,” paparnya.

Terkadang kesulitan yang dihadapi oleh tim relawan adalah sulit mendapatkan data atau identitas ODGJ yang berkeliaran di jalan. Untuk menangani hal tersebut, pihaknya membawa ODGJ terlebih dahulu ke panti agar dapat ditangani dan perlahan-lahan dicari informasi identitasnya.

“Kita mengimbau kepada masyarakat agar menganggap sama seperti manusia itu ODGJ, jangan seperti hewan seperti dipasung. Jika dipasung, itu bisa menambah menghadirkan penyakit,” harapnya.

Di sisi lain, Ketua Fraksi Partai Gerindra, Prasetyo Harsanto pada peringatan hari kesehatan jiwa internasional ini berkomitmen akan melindungi hak asasi ODGJ termasuk dalam mendapatkan pelayanan di fasilitas publik.

“Fraksi Partai Gerindra Kabupaten Cianjur dalam memperingatihari kesehatan jiwa sedunia berkomitmen akan melindungi hak asasi saudara kami yang mengalami gangguan jiwa (ODGJ) termasuk dalam mendapatkan pelayanan di fasilitas publik dan akan mendorong penambahan anggran untuk penanganan ODGJ,” ungkapnya.

Dirinya pun berpesan kepada seluruh masyarakat Indonesia khususnya Kabupaten Cianjur agar menghentikan stigma negatif dan diskriminasi terhadap ODGJ.(kim)