Kekeringan di Cianjur Belum Berakhir, Longsor Mengancam

Tanah longsor dari tebing setinggi 30 meter menghantam hingga menutupi sebelah rumah warga di Kampung Cirawa, Desa Kanoman, Kecamatan Cibeber. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur.

RADARCIANJUR.com – Hujan deras yang mengguyur wilayah Cianjur utara dan tengah dalam tiga hari terakhir bukan berarti Kabupaten Cianjur sudah terbebas dari masalah kekeringan.

Hingga Kamis (10/10), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur masih menerima laporan kekeringan di wilayah Cianjur selatan dan Timur.

Kepala BPBD Kabupaten Cianjur, Dody Permadi mengatakan, jika dilahat secara kasat mata, musim kemarau tahun 2019 memang akan segera berakhir. Hal itu ditandai dengan turunnya hujan sejak beberapa hari terkahir.

Akan tetapi, hal itu juga tidak bisa diartikan bahwa musim hujan benar-benar sudah tiba menggantikan musim kemarau. Menurutnya, tidak ada yang bisa mengetahui persis kapan berakhirnya musim kemarau tahun ini.

“Kita hanya merasakan hujan di daerah Cianjur utara dan tengah,” katanya.

Dody mengungkap, hingga saat ini, di wilayah Cianjur selatan dan timur masih belum merasakan hujan. Bahkan di wilayah itu masih mengalami kekeringan.

“Kami juga masih menerima ajuan permohonan bantuan air bersih dari warga yang tinggal di wilayah Cianjur selatan dan timur,” kata Dody.

Ia mengatakan, berdasarkan kajian, 360 desa dan kelurahan yang Kabupaten Cianjur punya risiko terjadinya bencana alam. “10 potensi bencana itu semuanya ada di Cianjur,” kata Dody.

Berdasarkan data, lanjut Dody, bencana alam yang sering terjadi di Kabupaten Cianjur adalah banjir, longsor dan kekeringan.

“Kalau data dulu hanya banjir dan longsor. Tapi dalam dua tahun ini yang tertinggi adalah kemarau, mencapai 13 kecamatan itu kekeringan,” ungkap Dody.

Menurut Dody, setelah musim kemarau, ancaman bencana alam yang terjadi adalah longsor. Sebab, usai kemarau, ikatan tanah sudah tidak ada. Keretakan tanah akibat kemarau banyak ditemukan.

Jika diguyur hujan yang sangat besar dan terus menerus, tanah sudah tak bisa lagi menahan bobotnya sendiri hingga akhirnya terjadi longsor.

“Keretakan tanah di atas tanah tak seberapa, namun yang lebih banyak itu keretakan di bawah tanah,” bebernya.

Dody mengatakan, potensi terkadinya longsor itu mengancam daerah-daerah yang banyak perbukitan.

“Potensi terjadinya longsor ada di wilayah Cianjur utara dan tengah. Kalau potensi kekeringan ada di wilayah Cianjur timur dan selatan,” pungkasnya.

(dil)