Musim Hujan Telah Tiba, Awas Lonsor dan Banjir

Rumah warga di Kampung Cirawa, Rt 01/10, Desa Kanoman rusak tertimbun longsor. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Peralihan musim panas ke musim hujan di Kabupaten Cianjur nampaknya harus mulai diwaspadai. Seperti halnya beberapa waktu yang lalu, hujan lebat mengguyur mengakibatkan longsor di Desa Kanoman, Kecamatan Cibeber.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur pun telah melakukan persiapan dan antisipasi segala kemungkinan yang terjadi. Bukan hanya menjelang musim hujan saja, namun kesiapsiagaan tersebut sudah dilakukan.

Akan tetapi, ada beberapa kendala yang harus dihadapi oleh BPBD Kabupaten Cianjur. Seperti kurangnya personil dan peralatan bencana yang digunakan.

Selain itu, akses menuju tempat kejadian pun masih menjadi kendala yang dihadapi oleh BPBD Kabupaten Cianjur.

Namun ternyata, hal tersebut dapat diantisipasi dengan dukungan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur dalam hal ini Plt Bupati Cianjur, Herman Suherman yang menjaring relawan tangguh bencana (retana) di setiap desa.

“Kalau untuk siap siaga tidak melihat musim atau pun waktu-waktu tertentu. Kita sebagai BPBD Kabupaten Cianjur harus selalu siaga dalam situasi apapun,” ujar Kepala BPBD Kabupaten Cianjur, Dody Permadi kepada Radar Cianjur, Jumat (11/10).

Kendala yang dihadapi sendiri tidak menjadi keluhan. Namun BPBD Kabupaten Cianjur terus berupaya dalam menangani hal tersebut. Seperti Relawan Tanggap Bencana (Retana) yang menjadi penanganan pertama saat terjadi bencana maupun antisipasi pertama.

“Retana bertugas untuk menangani bencana sebelum tim BPBD datang ke TKP, selain itu sebagai tim antisipasi juga,” tuturnya.

Berdasarkan data, selama tahun 2018 dari mulai 9 Januari-16 Desember 2018 di Kabupaten Cianjur sudah terjadi 102 bencana dari mulai banjir, tanah longsor, pergerakan tanah, angin puting beliung, kekeringan dan gempa bumi.

Dari 102 kejadian, terdapat tiga luka berat, 11 luka ringan, dan lima warga meninggal dunia. Sedangkan 47 kepala keluarga (KK) dengan 96 jiwa terpaksa mengungsi. Sedangkan sebanyak 1028 KK dengan 37.999 jiwa terdampak.

Sementara kerusakan rumah warga pun turut menjadi imbasnya yakni sebanyak 47 rusak berat, 62 rusak sedang, 954 rusak ringan dan 510 terendam.

Fasilitas umum seperti bangunan sekolah, irigasi, jalan dan kantor umum pun tak luput dari kerusakan bencana. Yakni satu irigasi rusak berat, 15 jalan rusak hingga tertimbun, 10 jembatan, delapan sekolah dan dua kantor umum.

Selain penanganan bencana, pihaknya pun turut mengikuti instruksi dari Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) agar melakukan pelestarian lingkungan atau menjaga alam.

“Sesuai dengan tagline dari BNPB, kita pun harus turut serta dalam menjaga alam yakni taglinenya kita jaga alam, alam jaga kita,” tutupnya.

(kim)