Status Darurat Kekeringan di Cianjur Belum Dicabut

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Meski hujan sudah mulai turun dalam beberpa hari terakhir, namun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur belum mencabut status darurat kekeringan. BPBD pun tetap siaga terhadap ragam kemungkinan terjadinya banjir dan longsor.

Sekretaris BPBD Kabupaten Cianjur, Sugeng Supriyatno mengatakan, dalam beberapa hari terakhir ini hujan mulai turun di beberapa titik dan masih banyak wilayah yang masih terjadi kekeringan. “Hujan baru terjadi di wilayah Cianjur kota. Sementara di Cianjur selatan dan timur belum turun hujan,” katanya, (18/10).

Ia menambahkan, berdasarkan perkiraan BMKG curah hujan akan meninggi pada bulan November. “Tapi itu baru perkiraan. Pada kenyataannya dalam beberapa hari hujan sudah mulai turun,” tuturnya.

Meski status kekeringan belum dicabut, namun BPBD juga tetap siaga terhadap kemungkinan terjadinya banjir dan longsor. “Tapi tetap kita dari BPBD Kabupaten Cianjur untuk tetap waspada, siap siaga terhadap kemungkinan terjadi banjir atau pun longsor,” ungkapnya.

Sugeng menjelaskan, wilayah Cianjur kota sempat diguyur hujan deras disertai angin kencang dua hari lalu. Dari kejadian itu, BPBD mencatat ada tiga pohon tumbang dan lima mobil rusak akibat tertimpa pohon. “Hujan dan angin kemarin itu hanya terjadi di wilayah Cianjur kota, tidak menyebar ke wilayah lain,” paparnya.

Menurutnya, BPBD Kabupaten Cianjur belum bisa menghitung secara pasti jumlah kerugian akibat peristiwa tersebut karena hingga saat ini belum ada komunikasi dengan pihak korban. “Kalau yang pastinya ada lima mobil yang rusak, namun kami belum bisa menghitung secara rinci total kerugian,” ulasnya.

Plt Bupati Cianjur, Herman Suherman mengatakan, akan membantu memperbaiki kendaraan yang rusak tertimpa pohon tumbang. “Insya allah dibantu sesuai dengan peraturan perundang-undangan,” ujarnya.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang dijelaskan, ruang terbuka hijau adalah area di sepanjang jalur yang memanjang yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman baik yang secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.
Nah, ruang terbuka hijau sendiri dibagi menjadi dua yakni ruang terbuka hijau publik dan ruang terbuka privat seperti tertuang dalam pasal 29 aya 1 UU Penataan Ruang.

Pada pasal tersebut, ruang terbuka hijau publik merupakan ruang terbuka hijau yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota yang digunakan untuk kepentingan masyarakat. Sehingga ketika masyarakat merasa dirugikan atau kendaraannya tertimpa pohon di jalan atau ruang terbuka publik lainnya. Masyarakat dapat menuntut ganti rugi terhadap pemerintah daerah.

Mengenai penggantiannya sendiri, dirinya belum menjelaskan secara jelas. Namun Pemkab Cianjur bertanggungjawab dan akan melakukan perbaikan terhadap kendaraan yang rusak. “Kalau mengenai penggantiannya, nanti kita akan atur dahulu dan yang jelas kita bantu,” tuturnya.

Dirinya pun mengimbau kepada masyarakat agar selalu waspada di saat musim hujan yang terkadang disertai angin kencang, serta tidak berteduh di pohon besar yang dikhawatirkan dapat membahayakan diri sendiri.

(dil/kim)