Derita Korban Angin Puting Beliung, Pekan Lalu Kecelakaan, Rumah Nyaris Ambruk

Uus sedang membersihkan puing-puing rumah yang ambruk. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Bencana tak diharap, musibah tak dapat disangka. Begitulah yang dialami Uus (37), salah satu warga Kampung Pasirnangka RT 03 RW 13, Desa Sirnagalih Kecamatan Cilaku, yang rumahnya diterjang angin puting beliung pada Sabtu (26/10) malam kemarin. Rumah yang ia tempati bersama istri dan anak-anaknya, nyaris ambruk. Sepekan sebelumnya, ia juga terlibat kecelakaan lalulintas.

Siang itu, Uus tampak sedang membersihkan puing-puing atap rumahnya, usai ambruk diterjang angin puting beliung akhir pekan lalu. Kayu dan genting yang masih utuh satu per satu dirapikan agar terpisah dari reruntuhan yang telah hancur.

Dibawah terik mentari siang itu, sesekali Uus mengusap tetesan keringat yang membasahi pipinya. Sementara istrinya, Nunung Asofa (25), sambil menggendong anak bungsunya, menyapu genting-genting yang telah hancur berserakan di halaman rumahnya.

“Mah, awas di sana banyak paku,” seru Uus dari atap rumah kepada istrinya yang berada di bawah.

Melihat hal itu, Uus memutuskan turun dari atap rumah untuk membersihkan paku-paku yang masih menempel di kayu-kayu rumah yang ambruk. Uus meminta istrinya agar tak mendekat area yang terdapat banyak kayu dan paku.

“Udah Mah, jangan di sini, biar bapak cabut dulu paku-pakunya. Mending sekarang ambil dulu terpal,” lanjutnya.

Sebuah terpal berukuran cukup lebar dengan lipatan tak sempurna pun diambil Nunug dari dalam rumahnya. Terpal itu digunakan untuk mengganti gentin atap yang tercerabut dari atap rumahnya.

Ia khawatir, jika terpal tak secepatnya dipasang dan kemudian turun hujan, malah akan memaksa ia dan keluarganya mengungsi mencari tempat berlindung dari hujan.

“Allhamdulah, untuk sementara rumah bisa teduh. Mungkin nanti malam bisa ditempati,” kata Uus seusai memasang terpal pengganti genting.

Uus menceritakan, awal terjangan angin puting beliung yang meluluhlantakan rumahnya itu terjadi sangat cepat.

“Kejadiannya sore. Plafon rumah runtuh. Untung rumah dalam keadaan kosong. Istri saya lagi ngambil air di kali, sementara saya lagi berteduh di warung sebrang jalan,” katanya.

Uus mengatakan, selain menerjang rumahnya, angin puting beliung itu juga mengakibatkan 13 rumah lainnya rusak. Akan tetapi, kerusakan paling parah adalah rumah miliknya.

“Semuanya ada 14 rumah yang rusak, namun rumah saya yang rusaknya paling parah,” ujar Uus.

Sejak atap rumahnya diterjang angin puting beliung, keluarganya terpaksa mengungungsi di rumah tetangga yang rusaknya tidak terlalu parah.

“Sementara kami tinggal di tetangga. Barang-barang semua dititipkan di saudara,” katanya.

Bapak dua anak ini mengaku belum tahu akan bagaimana ke depannya. Ia berharap ada bantuan dan kejelasan untuk rumahnya yang sudah tak beratap itu.

“Kalau untuk memperbaiki total dari mana (uangnya). Apalagi kemarin saya baru mengalami kecelakaan lalulintas,” bebernya.

Uus memgatakan, pasca kecelakaan lalulintas di Jalan Lingkar Timur itu, ia belum bisa bekerja seperti biasanya. Pasalnya, mobil tua miliknya yang biasa mengangkut pasir terpaksa dijual untuk membiayai pengendara dan penumpang sepeda motor yang ia tabrak.

“Mobilnya juga saya jual murah karena rusak,” katanya.

Senada juga disampaikan Santi (28). Angin puting beliung itu menerjang saat cuaca sedang mendung gelap sore hari. Angin datang dari sekitaran pintu masuk Pasar Induk Cianjur (PIC) bergerak ke Jalan Lingkar Timur.

“Iya saya lihat langsung anginnya datang,” tuturnya.

Sekian detik kemudian, angin itu langsung membesar dan menerjang rumah-rumah warga serta menerbangkan atap-atap rumah warga. “Terbang semua, asbes, genting. Atap semua yang kena,” ungkapnya.

Kini, warga berharap ada bantuan dari Pemkab Cianjur. Pasalnya, tidak banyak yang bisa dilakukan warga selain memanfaatkan sisa-sisa bangunan yang ada untuk dimanfaatkan kembali.(dil)