Pasca Puluhan Siswa Keracunan Jajanan Sekolah, Kaum Ibu Mulai Khawatir

Puluhan siswa sekolah dasar dan taman kanak-kanak di Kecamatan Sukanagara mengalami keracunan akibat mengkonsumsi jajanan sekolah, Selasa (29/10). Foto: ist

RADARCIANJUR.com – Sejumlah orangtua siswa khususnya kaum ibu mengaku khawatir terhadap sejumlah jajanan sekolah. Hal ini menyusul adanya peristiwa 31 siswa di Kecamatan Sukanagara setelah mengkonsumi jajanan cireng dan makaroni pada Selasa (30/10).

Seperti yang diungkap sejumlah orangtua siswa SDN Ibu Dewi 6. Nurhidayah (39) mengaku, khawatir usai terjadi keracunan terhadap siswa SD dan TK tersebut. Ia pun mewanti-wanti anaknya yang duduk di bangku kelas 4A agar tidak jajan sembarangan.

Sebagai langkah antisipasi, ia pun selalu lebih dulu mencoba jajanan yang akan dibeli sebelum dikonsumsi anaknya, untuk memastikan jajanan tersebut aman dan tidak mengandung zat berbahaya. “Pokoknya saya larang makan jajanan yang pakai telur pecah, cabe bubuk, penyedap, saus yang tidak higienis. Takut berdampak buruk kepada anak saya,” tutur orangtua dari siswa M Ikram Wicaksana ini.

BACA JUGA: Marak Keracunan Jajanan Sekolah, Ini Instruksi Plt Disdikbud Cianjur

Hal senada juga diungkap Widia (34), warga Gang Darna Kelurahan Sayang, Kecamatan Cianjur. Orangtua siswa kelas 5A SDN Ibu Dewi 6 itu memilih untuk ekstra hati-hati usai peristiwa di Sukanagara.

Untuk itu, ia pun memilih membuatkan bekal dari rumah untuk dikonsumsi anaknya saat di berada sekolah. “Karena perut anak-anak belum sekuat orang dewasa. Kan banyak makanan mengandung bahan berbahaya seperti pengawet, pewarna, pemanis dan penyedap kimia,” ujar ibu dari Alifa Ridho ini.

Ia juga menyarankan kepada anaknya agar tak membeli minuman atau makanan yang berwarna mencolok. “Lebih baik olah makanan sendiri. Kita sendiri yang siapkan bahannya, kita juga yang mengolahnya. Jadi aman,” ungkap dia.

Sementara, salah seorang pedagang makaroni di depan SDN Ibu Dewi 6, Jejen Ahmad Suhendi (49) menjamin, jajanan yang dijualnya aman untuk dikonsumsi, baik oleh orang dewasa maupun anak-anak. Sejak ia berjualan pada 2017 lalu, tak sekalipun ia mendapat protes keberatan dari para pembeli jajanannya. “Alhamdulillah, selama ini belum ada kejadian (komplain). Bahan juga diperhatikan,” ujarnya.

BACA JUGA : 16 Anak di Ciranjang Keracunan Kue Cubit

Warga Gang Guntur RT 03/06, Kelurahan Sawahgede, Kecamatan Cianjur ini menilai, keracunan di Sukanagara itu bisa saja keteledoran pedagang lantaran tidak memperhatikan kebersihan dan bahan jajanan yang dijualnya. “Sedangkan bahan-bahan saya jual dari makaroni dipilih yang bagus. Telor juga yang kualitas bagus. Kalau saya jualan yang membahayakan, itu kan sama saja saya menutup rezeki sendiri,” ulasnya.

Terpisah, Kepala SDN Ibu Dewi 6, Atang Gunawan mengatakan, sejak jauh hari pihaknya sudah melakukan antisipasi dengan memberikan sosialisasi kepada siswa dan orangtuanya.

Selain itu, diimbau agar membeli jajanan yang sudah disediakan di kantin sekolah yang kebersihan, kesehatan dan kelayakan konsumsi sudah terjamin. Bahkan, pihaknya akan bertanggungjawab penuh jika ada kejadian keracunan yang diakibatkan jajanan di kantin sekolah.
“Kami juga melakukan pemeriksaan rutin kepada para penjual jajanan di luar sekolah. Untuk memastikan keamanannya,” tuturnya kepada Radar Cianjur.

Hal senada diungkapkan Kepala KB/TK Mawar Cugenang, Laela Nurhayati. Ia merasa prihatin dan miris sekali dengan kejadian keracunan yang menimpa anak di Sukanagara dan Ciranjang.

Menurutnya, jika terjadi keracunan pada anak, langkah yang akan dilakukan yaitu memberikan pertolongan, menelusuri, mengobservasi, serta memberikan arahan dan pemahaman kepada pedagang.

Tak hanya itu, langkah lainnya dengan memberikan peringatan kepada pedagang dengan memeriksa barang dagangannya. “Mengadakan warung koperasi dikelola sekolah dan memberdayakan komite serta memberlakukan aturan jam kepada pedagang,” pungkasnya.(hry)