Rangkul Semua Elemen Tanggap Bencana

BUTUH KERJASAMA: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur menggelar sosialisasi mengenai penanggulangan resiko bencana (PRB) kemarin. FOTO: Hakim/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Berdasarkan indeks kebencanaan, Kabupaten Cianjur menempati posisi pertama. Sehingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur melakukan sosialisasi dengan merangkul berbagai elemen dari mulai masyarakat, dunia usaha dan komunitas lainnya. Pasalnya, kebencanaan bukan hanya tanggungjawab BPBD Cianjur tapi tanggungjawab bersama.

Kegiatan sosialisasi tersebut bertujuan untuk mengurangi dampak resiko dari bencana serta antisipasi sebelum terjadinya bencana. “Kita sadari bahwa Cianjur menjadi daerah rawan bencana pertama di Indonesia, maka dari itu forum penanggulangan resiko bencana ini kita bentuk dan ini menjadi tanggungjawab bersama bukan hanya BPBD Cianjur,” ujar Kepala BPBD Cianjur, Dodi Permadi.

Selain mengadakan forum, pengurangan resiko bencana ada beberapa yang dilakukan dari mulai pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan. Dari tiga poin tersebut, bisa dipilih dengan membuat formula untuk penanganannya.

“Nah kita pun membuat formula untuk penanganannya dari tiga poin tadi agar nantinya dipilih mana yang bisa ditangani pemerintah, sehingga nantinya didorong pada forum ini, lalu poin lainnya belum tertangani bisa kita upayakan agar mendapatkan jalan keluar. Sehingga tidak bertindak setelah terjadi, namun ditanggulangi sebelum terjadi,” paparnya di Gedung Bappeda Kabupaten Cianjur, kemarin.

Sementara itu, Jawa Barat disebut sebagai provinsi dengan jumlah kejadian bencana terbanyak di Indonesia. Sejak Januari hingga Oktober 2019, bencana alam di Jawa Barat mencapai angka 1.486 kejadian yang terbagi ke dalam beberapa jenis peristiwa.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, Suprayitno mengatakan, bencana yang dominan terjadi di Jabar adalah hidrometeorologi meliputi banjir, puting beliung dan longsor. Adapun jumlahnya, pergerakan tanah atau longsor 468 kejadian, kebakaran hutan dan lahan 360, kebakaran rumah 330, dan puting beliung sekira 115.

Menurutnya, sejumlah bencana tersebut banyak terjadi di wilayah Bandung Selatan seperti Baleendah, Majalaya dan sekitarnya. Daerah-daerah tersebut kerap dilanda Banjir karena memiliki bantaran sungai rendah yang membentang dari Gunung Wayang hingga Muara Gembong sepanjang aliran Sungai Citarum.

“Ditambah lagi dengan tersendatnya aliran penampang Citarum, itu setengah lebih kena batu. Mudah-mudahan bulan Desember, Curug Jompong Insya Allah berfungsi dan nanti bisa mereduksi minimal 700 luasan yang sering banjir,” ucap Suprayitno, di Gedung Sate, Kota Bandung.

Sementara peristiwa pergeseran tanah, kata Suprayitno, kerap terjadi di 2/3 wilayah Jawa Barat, yakni bagian Selatan dan Tengah. Untuk itu, pihaknya berupaya mengantisipasi dengan terus memberikan edukasi guna membangun kesadaran masyarakat agar saat terjadi bencana tidak banyak memakan korban.

“Kami kan sesuai undang-undang misinya menyelamatkan korban, jangan sampai ada korban, kemudian harta bendanya, infrastrukturnya dan trauma healing,” katanya.

Disinggung kesiapan antisipasi bencana, pihaknya memaksimalkan Sumber Daya Manusia (SDM) di BPBD Jabar ditambah sebanyak 50 anggota Pusdalops (Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana). Selain itu, pendampingan juga diberikan kepada BPBD di 27 kabupaten/kota di Jawa Barat.

“Peralatan kami juga pendampingan karena masing-masing kabupaten/kota memiliki peralatan juga. Kemudian logistik kami juga perkuat, ketika kabupaten/kota melihat stok gudang yang sudah mulai menipis, ya kami bantu,” jelasnya.

Pada tahun 2019, BPBD Jabar memiliki anggaran sebesar Rp1,2 miliar untuk kebutuhan logistik, sementara dari pemerintah pusat Rp4,9 miliar. Rencananya, anggaran penanggulangan bencana di Jawa Barat yang berasal dari APBD Jabar 2020 akan dinaikan menjadi empat kali lipat.

“Alhamdulillah Pak Ridwan Kamil sangat respek sekali, perhatian sekali dan tahun depan menjadi empat kalinya. Anggaran itu kita bagikan menjadi berbagai jenis makanan,” tandasnya. (kim/rmol)