Upaya Pemuda Desa Mengubah Sampah jadi Rupiah, Dari Plastik jadi Paving Blok

FOTO: DADAN SUHERMAN/ RADAR CIANJUR

RADARCIANJUR.com – Sampah selalu menjadi permasalahan di semua daerah, tak terkecuali di Cianjur. Berton-ton sampah rumah tangga yang dihasilkan setiap hari, sampah plastik menjadi yang paling dominan. Padahal, butuh ratusan tahun agar sampah plastik bisa benar-benar diurai tanah. Hal ini pula yang menggerakkan pemuda Desa Sukamanah untuk berkreasi menyulap sampah plastik.

LAPORAN: Dadan Suherman, CUGENANG

Berawal dari keresahan menumpuknya sampah plastik, Karang Taruna Kampung Kedung Hilir RT 01 RW 03, Desa Sukamanah, Kecamatan Cugenang mencoba berinovasi. Setidaknya, bisa mengurangi tumpukan sampah plastik.

Berbagai cara dilakukan sejak setahun sebelumnya. Tapi baru pada September 2019 lalu, para pemuda kreatif ini bisa menemukan cara untuk mengurangi tumpukan sampah plastik dan memanfaatkannya menjadi barang bernilai ekonomis.

Sampah-sampah plastik itu disulap menjadi bahan utama pembuatan paving blok. Upaya itu pun tak sekali dilakukan hingga membuahkan hasil yang diinginkan.

“Nyoba berkali-kali. Seperti eksperimen gitu. Enggak langsung jadi. Setelah mencoba terus, akhirnya bisa jadi paving blok,” tutur Ketua Unit Karang Taruna RT 01, Faried Lutfi.

Paving blok berbahan utama sampah plastik itu juga sudah melalui beberapa kali ‘pengujian’. Hasilnya, paving blok dari sampah plastik itu dinilai layak untuk digunakan.

“Minimal kami dari pemuda bisa memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” ujarnya.

Paving blok dari sampah plastik itu disebut Faried memiliki sejumlah kelebihan. Pertama, lebih kuat jika dibanding dengan paving blok biasa dari semen dan pasir.

Kedua, meskipun berbahan utama sampah plastik, tapi permukaannya tidak licin. Sebab, permukaan atas sudah ditaburi semen dan pasir. Dan yang paling utama adalah mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA.

“Satu paving blok ini beratnya diperkirakan mencapai satu kilogram,” terangnya.

Sayangnya, sampai saat ini, produksi paving blok berbahan sampah plastik itu masih belum bisa diproduksi secara massal. Sampai saat ini, produksi dilakukan sekedar untuk mengurangi volume pembuangan sampah plastik ke tempat pembuangan akhir (TPA).

“Dari mulai produksi hingga kini, belum kita jual. Belum bisa produksi banyak,” ujarnya.

Akan tetapi, pihaknya memang berkeinginan agar nantinya paving blok tersebut bisa diproduksi massal dan bisa dijual umum. Itu pun, masih harus menunggu sejumlah peralatan produksi.

Seperti cetakan, tempat peleburan plastik yang memadai sampai dengan tempat produksi. Nantinya, harga jual akan disesuaikan dengan biaya produksi.

“Harganya jika kita hitung-hitung sekitar Rp3 ribu. Mudah-mudahan saja ke depannya kita bisa mulai produksi secara umum dan bisa dijual umum,” pungkasnya.(dan)