Setda tak Laporkan Pemalsuan Surat Pemkab Cianjur

PALSU: Beredar surat pengangkatan PNS dengan tandatangan palsu bupati. Surat inipun akhirnya diposting di instagram resmi humas pemkab Cianjur, kemarin siang.

RADARCIANJUR.com -Pemkab Cianjur memilih tak mempolisikan pelaku pemalsuan surat yang mengatasnamakan Sekretariat Daerah (Setda) dan Plt Bupati Cianjur yang dikirimkan kepada salah seorang guru honorer dengan dalih pengangkatan status sebagai pegawai negeri sipil (PNS).

Padahal, korban yang tertipu kehilangan uang Rp550 ribu kepada pelaku yang dikirimkan melalui transfer rekening.

Sekda Kabupaten Cianjur, Aban Sobandi mengatakan, pihaknya tak akan membawa kasus itu ke kepolisian. Alasannya, pihaknya kehilangan jejak pelaku pemalsu surat tersebut.

BACA JUGA : Beredar Surat Penyerahan SK PNS dengan Tandatangan Palsu Plt Bupati Cianjur

“Kita tidak melaporkan (ke polisi), karena orang yang menipunya pun kita tidak tahu,” ujarnya kepada Radar Cianjur, Kamis (5/12).

Selain itu, kata Abdan, pihaknya tak memiliki bukti cukup banyak, sehingga memilih untuk menyampaikan imbauan saja agar kejadian serupa tak terulang lagi.

“Bukti yang kita miliki hanya surat saja. Kita hanya memberikan imbauan kepada masyarakat agar jangan mudah percaya. Jika ada temuan, segera melaporkan atau konfirmasi ke Pemkab Cianjur serta pihak kepolisian,” tuturnya.

Temuan ini terungkap usai seorang tenaga honorer guru berinisial EH melakukan konfirmasi ke Sekda Pemkab Cianjur, yang menyebutkan bahwa dirinya akan diangkat jadi PNS.

“Tanggal 2 Desember 2019 ada guru honorer datang ke pak sekda menanyakan SK (pengangkatan) dengan membawa surat tersebut. Padahal Pemkab Cianjur belum ada pengangkatan, apalagi untuk PNS,” ujar Plt Bupati Cianjur, Herman Suherman.

Dalam surat itu menyebutkan akan dilakukan penyerahan SK pengangkatan di Pendopo Pemkab Cianjur pada Selasa (3/12) pukul 11.00 WIB.

Pada akhir surat terdapat tandatangan Plt Bupati Cianjur lengkap disertai cap Bupati Cianjur. Herman memastikan surat dimaksud palsu dan dirinya tidak pernah menandatanganinya.

“Dari isi dan penulisannya sudah tidak sesuai. Apalagi itu surat Setda tapi dibuat dan seolah-olah ditandatangani saya. Itu bisa dilihat tandatangannya hasil print dan capnya juga palsu,” ungkapnya.

Sayangnya, korban sudah memberikan uang Rp550 ribu kepada pelaku melalui transfer bank. “Apakah hanya segitu saja, kalau selain itu belum tahu juga. Sekarang nomor yang meminta uang tersebut sudah tidak aktif lagi,” terangnya.

(kim)