Cerita Nilam Cahyawati Brewers Kopi Cianjur, Ada Manis di Balik Pahit

Nilam Cahyawati Brewers Kopi Cianjur

RADARCIANJUR.com – Bagi Nilam Cahyawati menjadi peracik kopi bukan sekedar pekerjaan. Tapi hobi dan lifestyle. Aroma wangi kopi pula yang membuatnya jatuh hati dan menjadikannya salah satu Brewer terbaik di Cianjur sejak empat tahun terakhir.

Berdiri di belakang meja kopi memberikan sensasi tersendiri dengan iringan suara mesin grinder, roaster dan tuangan air panas. Jawara kompetisi manual brewer Cianjut 2018 lalu ini pun sangat cekatan menyajikan kopi sampai kepada penimatnya.

Cara ia meracik dengan metode manual pun benar-benar khusus. Menggunakan air panas temperatur 90 derajat celcius dari teko khusus supaya kopi beraroma dan menghilangkan rasa pahit yang terkandung dalam kopi.

“Itu diulang tiga kali penyeduhan untuk proses ekstraksi menghilangkan gas dan menghasilkan rasa manis khas kopi,” tutur Nilam.

Sebagai seorang brewer, sangat menyenangkan membuat tersenyum pelanggannya dengan kopi hasil racikannya yang lantas melahirkan kebanggaan tersendiri.

Alumnus Akademi Tata Boga Bandung tahun 2015 ini bermimpi, bisa mengubah mindset masyarakat tentang kopi sebagai minuman yang mengandung kafein.

“Kopi bisa kok dinimkati semua orang dan dikonsumsi sehari-hari. Aman,” ujarnya.

Baginya, kopi juga bukan sekedar minuman, tapi ada filosofi yang mendalam. Dari mulai tanaman kopi tumbuh, berkembang, berbunga sampai berbuah dan ranum.

Uniknya, kopi yang baik hanya bisa ditanam di ketinggan tertentu alias tidak sembarangan. Belum lagi proses penjang yang harus dilalui sampai menghasilkan biji kopi pilihan.

“Kopi itu pekat dan harumnya pas. Ada pahit, tapi ada manisnya juga. Seperti kehidupan manusia,” ucapnya.

Gadis kelahiran Cianjur 1993 ini mengaku, untuk mendalami ilmu sebagai brewer, ia pun menempuh kursus di Jakarta. Selain penasaran, juga hasratnya pada kopi.

“Saya awalnya melihat rekan satu kerjaan yang jadi barista kopi dan ingin mencoba meminumnya, hingga akhirnya merasa tertarik menjadi brewers,” ujar wanita berkerudung ini.

Nilam berujar, saat dirinya memainkan berbagai perlengkapan pengolah kopi, adalah saat dirinya sama sekali tak bisa diganggu. Terlebih, untuk menggunakan setiap perlengkapan itu membutuhkan trik khusus.

“Untuk menghasilkan kopi beraroma lebih nikmat, sebaik menuangkannya dengan cara manual. Butuh konsentrasi yang tinggi,” terangnya.

Kendati demikian, ia mengaku tak puas dengan ilmu yang sudah didapatnya. Karena itu, Nilam memilih aktif di sebuah komunitas pecinta kopi dan terus memperdalam ilmu dan pengalaman.

“Jadi belajar sama yang lebih senior. Juga mendatangi kafe-kafe. Pokoknya, pengen belajar terus,” ujar pemilik warung kecil kuliner, roti, kue dan cookies di Jalan Dr Muwardi ini.

Ia pun bermimpi, kopi khas Cianjur seperti kopi Campaka, kopi Sarongge, kopi Gunung Padang dengan beragam varian rasa dan aroma kopi jenis Robusta dan Arabika lainnya bisa terangkat ke level lebih tinggi.

“Kopi itu bukan cuma minuman. Tapi ada budaya dan bagian dari hidup. Semoga bisa ikut mengangkat kopi-kopi khas Cianjur,” tutupnya.(her)