Jakarta Kebanjiran, Tengkulak Sayuran Cianjur Kedodoran

FOTO: DADAN SUHERMAN/ RADAR CIANJUR PERMINTAAN TURUN: Banjir yang melanda Jakarta di awal tahun membuat pemasok sayuran Cianjur mengalami penurunan permintaan.

RADARCIANJUR.com – Banjir di Jakarta dan sekitarnya pada awal 2020 berdampak pada para pemasok dan tengkulak sayuran di Cipanas. Permintaan yang seharusnya tertuju ke Ibukota itu ternyata menurun hingga 30 persen.

Seorang tengkulak sekaligus pemasok sayuran ke Jakarta, Upay (40) mengaku, tak menyangka bahwa usaha yang telah dilakoninya selama hampir 15 tahun itu ternyata bisa mengalami penurunan drastis.

Baginya, bencana alam banjir Jakarta merupakan yang paling parah. “Biasanya permintaan secara normal dari Jakarta itu bisa mencapai 15 ton per hari dari semua jenis sayuran. Tetapi kali ini turun sekitar 30 persen,” ujarnya saat ditemui, Jumat (3/1).

Penurunan permintaan tersebut, menurut Upay karena sejumlah faktor. Diantaranya, daya belanja konsumen yang berkurang, beberapa pasar yang dilanda banjir, sejumlah harga sayuran ada yang naik, serta daya tahan sayuran yang tak bisa lama karena terendam air. “Paling kalau ada permintaan lain pun, itu dari jongko besar. Beberapa pemasok pun kini mengirimnya ke pasar induk daerah Jakarta barat,” ujarnya.

Selain itu, Upay mengatakan, beberapa harga sayur yang merangkak naik seperti kol. Dari semula Rp2000 per kilogram, kini harganya Rp3000 per kilogram. Kemudian wortel, dari harga Rp3000, kini menjadi Rp4500 per kilogram. “Tapi ada juga harga bawang bakung dari harga Rp10 ribu, kini anjlok menjadi Rp7 ribu perkilogram,” tambahnya.

Ia berharap, cuaca yang terjadi beberapa hari ini, bisa lebih kembali normal. Sehingga antara penjual sayur di pasar dengan pemasok, bisa terus berjualan dengan lancar. “Kalaupun ada barang atau sayuran yang gak kejual, paling saya buatkan bibit lagi. Atau kalau enggak, ya paling dibuang gitu aja,” ujarnya.

Hal sama diakui Edih (40), petani yang sekaligus pemasok sayur mayur ke Jakarta. Menurutnya, walaupun tidak semua yang berbelanja ke pasar tradisional, tetapi pembeli yang biasanya ke pasar, jadi mengurungkan niatnya untuk berbelanja.

Akibatnya pasar pun mengalami penurunan penjualan. “Memang kalau pasokan itu tetap normal. Tapi kalau pas begitu ngirim, terus terjadi sesuatu di Jakarta, pasti barang yang dikirim pun akan sia-sia. Itu dipastikan keesokan harinya gak bisa dijual dan merugi,” tukasnya.

(dan)