Pilkades Rawan Kericuhan, Butuh Regulasi yang Matang

BERKOBAR: Warga membakar kayu di dalam lingkungan Kantor Desa Waringinsari, Kecamatan Takokak sebagai bentuk protes.

RADARCIANJUR.com – Peristiwa kericuhan yang terjadi di Kantor Desa Waringinsari, Kecamatan Takokak kemarin menuai perhatian dari berbagai pihak. Kerawanan pelaksanaan pemilihan kepala desa (Pilkades) kali ini pun dinilai lebih besar sehingga membutuhkan regulasi yang matang dari dari pemerintah daerah agar kericuhan tidak terjadi kembali.

Pengamat Politik Universitas Suryakancana (Unsur) Cianjur, Dedi Mulyadi mengatakan, penyelenggaran Pilkades 2020 sangat rentan terjadinya konflik. Pasalnya, demokrasi lokal atau di desa ini merupakan demokrasi yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Sehingga tak heran, terjadi aksi protes puluhan massa dan sampai menggelar aksi di Kantor Desa Waringinsari, Kecamatan Takokak kemarin. “Berbeda jika kita berbicara mengenai Pileg dan Pilpres kemarin. Pilkades ini kondisinya bersentuhan langsung dengan masyarakat. Dari gesekan itu maka akan berbuah kontra produktif baik dari sisi pembangunan maupun sosial,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, pada penyelenggarannya perlu dibuat regulasi yang kuat sehingga gesekan tersebut dapat diminimalisir. Calon kades pun tidak boleh menampikkan pokok pikiran mengenai persatuan dan pembangunan yang menjadi sinergitas. “Jika ini (kericuhan) terus berlanjut, dampaknya cukup signifikan. Bisa terjadi keretakan sosial pasca konflik Pilkades ini. Selain itu, calon kades pun harus menerima dan siap kalah. Tidak menampikkan pokok pikiran persatuan dan pembangunan,” tutur Wakil Dekan I Fakultas hukum (FH) Unsur ini.

Baginya, Pilkades merupakan demokrasi yang tidak mudah. “Pemerintah daerah pun harus menyiapkan segala sesuatunya dengan matang, terlebih regulasi dan penegakkan hukumnya yang harus kuat,” ulasnya.

Sementara itu, Kabid Tata Pemerintahan Desa dan Lembaga Kemasyarakatan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Cianjur, Asep Suhendra mengatakan, terkait konflik yang terjadi di Desa Waringinsari Kecamatan Takokak, pengamanan yang dilakukan sudah semaksimal mungkin oleh pihak Polsek Takokak dan Koramil Takokak.

Saat ini pun kondisi sudah mulai kondusif dan massa yang melakukan aksi pun sudah membubarkan diri setelah dilakukan musyawarah terkait ketidak puasan atas salah satu calon yang didukung tidak lolos. “Tadi (kemarin, red) sudah dilaksanakan pengamanan semaksimal mungkin dan saat ini (kemarin) sudah mulai kondusif. Pada saat menerima informasi, saya beserta pak sekdis langsung menuju lokasi untuk melakukan mediasi dan menejelaskan mengenai ketidaklolosan calon tersebut,” ujarnya.

Dirinya pun menampik jika Pilkades 2020 ini dinilai buruk dan tidak kondusif. Menurutnya, ini merupakan suatu dinamika politik. Penyelesaian tersebut pun dilakukan secara kepala dingin antara pihak panitia, aparat keamanan dan DPMD. “Kalau dinilai buruk itu tidak, ini kan dinamika politik. Pasti ada saja ketidakpuasan baik dari calon maupun pendukungnya,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, dari kejadian tersebut, semua pihak pun turut menjadi penanggungjawab. Dari segi keamanan sendiri, turut didukung oleh Polri dan TNI. Sementara dari sisi pemerintahan mencakup panitia desa, kecamatan dan pemerintah daerah dalam hal ini DPMD. “Tadi (kemarin, red) penyelesaiannya secara musyawarah serta masih dibahas dengan pihak yang kurang berkenan dengan panitia. Dilanjutkan dengan para calon membahas terkait dengan kejadian tadi,” tutupnya.

(kim)