Warga Citampele olah Kotoran Sapi jadi Uang

Warga Citampele sedang mengolah kotoran sapi, untuk dijadikan pupu yang akan dikirim ke Depok. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Bagi yang tekun, tak jijik dan ulet, kotoran hewan ternak sapi bisa jadi pemasukan yang tak sedikit. Bahkan, jika diolah dengan baik, kotoran itu bisa jadi pupuk organik yang memiliki nilai jual. Seperti yang dilakukan warga Citampele, Desa Mentengsari, Cikalongkulon. Dengan difasilitasi Bumdes Brajamusti, olahan kotoran sapi itu bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah.

Laporan: Fadilah Munajat, Cikalongkulon

Sebagian besar warga di kampung Citampele, sudah hampir dua bulan ini mengolah kotoran sapi menjadi pupuk organik dan telah menyuplai pupuk untuk suplier di Depok.

Produksi pupuk ini menjadi mata pencaharian tambahan bagi warga dan menjadi satu bidang usaha Bumdes Brajamusti yang membidangi pupuk organik.

Di tanah desa sekitar 1.000 meter persegi, hamparan kotoran sapi dibiarkan mengering dan menguap. Lalu di bawah tenda plastik terhampar kotoran sapi yang sudah mengering.

Beberapa pekerja dengan membawa troli memasukan kotoran sapi yang mengering tersebut ke dalam mesin pencacah. Keluar dari mesin penghalus, kotoran sapi sudah seperti pasir dan kering. Tak berbau dan siap untuk dikemas.

Proses selanjutnya beberapa warga menakar ke dalam ember dengan volume 12 kilogram. Seorang lagi bertugas menjahit karung plastik dan merapikannya.

Uday Nurodin (44), warga yang turut dalam pengelolaan limbah kotoran sapi ini mengatakan, terkadang permintaan dari suplier tak bisa terpenuhi karena pekerja yang masih sedikit.

“Awalnya Bumdes mengajukan usaha ini dan harus dikelola oleh warga,” ujarnya.

Sebagai bahan baku utama, memanfaatkan kotoran dari peternakan sapi yang terdapat di desa tersebut yang didapat secara cuma-cuma. “Kalau untuk bahan baku tak kekurangan, selalu disuplai lebih.” ungkapnya.

Uday mengatakan, kotoran sapi dikeringkan dengan cara dicangkul dan diratakan. Prosesnya bisa sampai tiga hari lalu ditimbun terlebih dahulu.

Setelah proses tersebut, kotoran sapi dibiarkan secara alami di alam terbuka sampai gas dan baunya hilang. “Setelah kering baru dipilah mana yang sudah benar-benar kering dan mana yang belum,” terang Uday.

Sebelum masuk ke mesin klaser atau mesin penghalus, dilakukan pengkondisian terlebih dahulu agar tak mengumpal. “Dicangkul lagi hingga berbentuk seperti kerikil,” katanya.

Dalam satu kali pengiriman, terdapat tak kurang dari 700 karung pupuk organik. “Mengambilnya ada yang per minggu, ada juga yang per bulan,” ujar Uday.

Satu-satunya kendala yang dihadapi pengolahan pupuk organik cuaca hujan. Pasalnya, proses pembuatan pupuk organik dipastikan membutuhkan waktu lebih lama lantaran basah.

Selain itu, pupuk yang basah akibat hujan bisa rusak dan keluar belatung akibat pembusukan. “Makanya jangan sampai kena hujan,” tuturnya.

Keberadaan pengolahan kotoran sapi itu sendiri cukup membantu warga karena mendapat pemasukan tambahan. “Upah borongan per hari Rp40 ribu sampai Rp60 ribu,” ujar dia.

Untuk memenuhi permintaan, per hari harus bisa mengumpulkan 275 karung pupuk organik. Dengan demikian, sebulan bisa dikumpulkan 2.100 karung.

Ke depan, Bumdes Brajamusti juga berencana akan memproduksi media tanam. “Makin banyak peluang usaha, jelas bisa memberikan pemasukan yang lebih banyak. Ya buat desa, ya buat warga,” pungkasnya.(*)