Derita Keluarga Mamun 15 Tahun Hidup di Gubuk Reyot, Tak Dapat Bantuan, PKH Malah Ditarik

Kondisi rumah yang ditempati makmun tidak layak untuk ditempati. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Wajah kemiskinan di Cianjur seperti cerita yang tak pernah usai untuk dikisahkan. Terbukti, masih banyak sekali warga miskin yang kisahnya luput dari pengamatan. Padahal, dilihat dari kondisinya, warga tersebut sejatinya layak mendapatkan bantuan. Seperti keluarga Mamun, warga Kampung Kepuh RT 05 RW 08, Desa Gudang, Kecamatan Cikalongkulon.

LAPORAN: Fadilah Munajat, CIKALONGKULON

Program rumah tidak layak huni (rutilahu) yang dicanangkan pemerintah sepertinya belum merata, hal itu karena masih adanya daerah yang belum tersentuh program tersebut.

Salah satunya keluarga Mamun (56) yang 15 tahun hidup di gubuk reyot bersama istrinya Enung Nuryani (50) dan anaknya Ilah (19). Belasan tahun, keluarga tersebut hidup di sebuah rumah berukuran 3 x 1,5 meter yang nyaris ambruk.

Di dalam gubuk, berlantai bambu di bagian dapur langsung tanah tak terlihat adanya peralatan rumah tangga. Merenovasi rumah adalah sebuah mimpi bagi keluarga ini.

Sebagi buruh pembuat batu bata, penghasilan Mamun jelas hanya cukup untuk makan sehari-hari ala kadarnya. Ironisnya, Mamun juga menderit sakit paru-paru.

Warga setempat sempat membujuk Mamun untuk berobat karena warga melihat suara Mamun sudah hilang akibat sakit parunya. Setelah bersikeras warga akhirnya berhasil membuat Mamun berobat hingga sembuh.

Bangunan rumah itu sendiri bukan Mamun sendiri yang membangun. Melainkan hasil gotong royong warga belasan tahun lalu.

“Kerja jadi buruh penghasilan saya Rp20 ribu, itu dari pagi sampai sore. Cetak bata 100 buah per hari kalau dak sampai target paling dapat Rp10 ribu,” ujar Mamun ditemui di rumahnya.

Mamun mengatakan, ia sempat menerima kartu PKH namun baru dua kali menerima langsung ditarik lagi. “Saya sempat dapat beras, tapi sudah lama ga dapat lagi, kartunya diambil,” kata Mamun.

Mamun juga tak bisa jauh bekerja keluar kampung karena istrinya dalam kondisi sakit. “Tangan istri saya turun sebelah, saya enggak tahun dia kenapa,” katanya.

Ketua RT 05, Rojai (56) mengatakan, pihaknya sudah lama mengajukan perbaikan rumah Mamun. Namun tak kunjung juga ada respons. Ia heran ketika mendapat jawaban tak ada program rutilahu, padahal di desa lain ada.

Rojai juga bingung kenapa kartu PKH Mamun yang baru dua kali menerima bantuan malah kemudian ditarik lagi kartunya.

“Pengajuan dulu lima rumah tapi belum ada respons. Saya mengajukan enam tahun lalu, aneh di desa lain ada di sini tak ada,” katanya.

Ketua BPD Desa Kepuh, Yudhistira mengaku kecolongan ada warga yang tak punya rumah karena ambruk dan terpaksa tinggal di saung.

“Lokasi ini tidak terpantau, memang saya menerima laporan ada beberapa di desa, tapi rumah ini yang tak jauh dari alun-alun kecamatan tak terpantau,” kata Mamun.

Ia mengatakan, sudah menerima fakta rumah Mamun sudah beberapa kali diajukan, PKH sudah menerima tapi ditarik lagi, lalu melihat kondisi keluarga yang tak sehat.

“Baru kali ini melihat rumah tak jauh dari alun alun keadaannya seperti ini,” kata Yudistira.

Ia mengatakan, baru kemarin ke saung Mamun untuk pendataan dan memeriksa data penduduk. Yudistira mengatakan jika dalam waktu dekat tak ada pihak yang membantu, maka ia akan membuka sumbangan dan berkeliling meminta sumbangan untuk pembangunan rumah Mamun.

“Sudah terpikirkan untuk membuat kencleng di jalan meminta sumbangan,” katanya.(*)