Pilkades Cianjur : Adu Taktik dan Ilmu Gaib

RADARCIANJUR.com -Pemilihan kepala desa (Pilkades) digelar serentak di 248 desa se Kabupaten Cianjur, Minggu (23/2) mendatang diharapkan berjalan kondusif.

Namun percaya atau tidak, bahwa fenomena “magic” itu kemungkinan masih dianggap sebagai cara untuk memenangkan kompetisi memilih pemimpin tingkat desa tersebut.

Cara itu memang dianggap sebagian calon untung. Karea gaib, disadari atau tidak, hal tersebut masih dipercaya di tatar santri ini. Bahkan, fenomena tersebut bisa terjadi di pemilihan umum maupun Pilkades nanti.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cianjur KH. Abdul Rauf mengatakan, mungkin masih adanya fenomena di masyarakat yang mempercayai adanya ilmu “magic”. Biasanya itu dilakukan dalam momentum tertentu, termasuk dalam perhelatan Pilkades.

Oleh karena itu, lanjutnya, untuk mencapai sesuatu jangan sampai disalah artikan. Sebab, manusia hanya bisa berencana dengan jalur sesuai agama, karena pada hakekatnya sudah menjadi kehendak Allah SWT.

“Kalau meminta doa, kepada orang yang dinilai pintar seperti kiai atau ulama itu bagus. Tetapi, kalau masih menggunakan dukun itu sudah salah kaprah,” kata Abdul Rauf saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jum’at (21/2).

Dengan melakukan hal seperti itu, menurutnya, bukan ciri seorang pemimpin yang baik. Karena, perbuatan tersebut bukan tindakan orang yang beragama, karena mempercayai hal-hal tidak sesuai dengan ajaran agama.

“Kita harapkan agar semua calon tersebut percaya diri. Sehingga tidak melakukan tindakan seperti meminta bantuan kepada dukun. Tetapi, yang terpenting adalah lebih mendekatkan diri kepada masyarakat, sehingga dipercaya dan bisa dipilih oleh masyarakat,” tuturnya.

Pihaknya berharap agar calon kepala desa tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Sehingga, pesta demokrasi pemilihan kepala desa tidak dinodai oleh tindakan yang tidak baik. “Kita wajib berusaha, tetapi tidak dengan melakukan tindakan yang tidak baik,” tandasnya.

Pengamat Politik Universitas Suryakancana (Unsur), Dedi Mulyadi mengatakan, jika melihat dari perkembangan fenomena saat ini, baik ajang kontestasi Pemilu, Pileg, Pilpres, Pilgub, Pilbup, dan Pilkades yang akan berlangsung beberapa hari lagi, memang masih didominasi dengan pertempuran strategi melalui media sosial. Walaupun menurutnya, strategi di darat atau di lapangan pun masih digunakan.

“Karena kalau di lapangan atau di darat itu mungkin masih terlihat dan terpantau langsung oleh panitia atau pengawas desa. Tetapi jika di medsos, itu masih belum ada Perbupnya. Kecuali ada indikasi mengarah kepada larangan undang-undang ITE,” terang Dedi, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jum’at (21/2).

Ia menilai, fenomena strategi di media sosial merupakan hal yang wajar dan sah-sah saja. Namun yang mesti lebih dikontrol itu lebih kepada akun-akun yang tidak bertanggungjawab. Artinya, bisa jadi akun dari simpatisan maupun tim suksesnya.

Selain itu, Dedi mengatakan, strategi lain yang mungkin akan dilakukan oleh sejumlah calon kades, yakni dengan cara mendatangi orang pintar atau paranormal.

“Memang walaupun dengan mendatangi atau cara seperti itu tidak melanggar hukum. Tetapi artinya itu menjadi sesuatu yang rasional ditarik ke irasional. Dan itu memang fenomena sosial seperti itu,” jelasnya.

Dedi berharap, fenomena irasional ini harus dipangkas dengan cara-cara rasional. Sehingga ketika bersangkutan terpilih atau tidak terpilih karena dengan cara rasional, bisa dinilai masyarakat dengan cara yang baik pula.

“Ini bisa menjadi catatan kepada seluruh para calon yang kini ikut berkontestasi di Pilkades serentak ini. Sehingga bisa melakukan strategi dan taktik secara baik,” tukasnya.

Terpisah, menurut pengakuan seorang paranormal yang tinggal di wilayah Cipanas berinisial JAS mengaku, beberapa calon kepala desa yang kini tengah bertanding di Pilkades, memang sudah ada yang meminta doa serta dukungannya secara ilmu gaib supaya menjadi menang. Bahkan ia mengakui, sudah lebih dari sepuluh Cakades yang datang kepadanya.

“Kebanyakan calon itu ada yang nanya dari awal, pertengahan, hingga nanti hari H minta doa khusus supaya dimenangkan,” katanya.

Ia mengungkapkan, dalam satu desa, dirinya bisa membantu Cakades yang meminta didoakan secara bersamaan atau dua calon sekaligus. Kendati begitu, menurutnya, jika ada yang lebih berani untuk membeli / memaharkan barang atau jimat khusus, maka itu yang dipilih.

“Biasanya secara pembayaran mahar, bisa mencapai jutaan rupiah dari satu calon. Tetapi jika si calon menginginkan dibantu dari awal, itu bisa mencapai belasan juta rupiah,” katanya.(dan)