Kondisi Siti Maesaroh, Ibu Hamil yang Ditandu Anggota TNI

SEHAT: Siti Maesaroh sedang menggendong bayinya. Foto:Fadilah Munajat/Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Di sebuah rumah panggung, di lereng tebing di wilayah Desa Mekarmulya Cikalongkulon, Siti Maesaroh (27) harus membesarkan anak perempuan pertamanya Siti Musdalifah Almunawaroh tanpa didampingi sang suami, lantaran sang suami pergi entah kemana saat Siti Maesaroh mengandung.

Ya ibu muda warga Kampung Cigedogan Girang, RT 03/02 Desa Mekarmulya, Cikalongkulon ini diketahui sempat ditandu oleh anggota TNI, selepas melahirkan dengan cara operasi caesar kondisinya mulai membaik.

Sesekali bayi yang ada dipangkuan Siti Maesaroh menangis, kemudian sebuah gelas berisi air susu diambilnya. Seutas kain pun dicelupkan kedalam gelas, kemudian susu yang ada di kain itu diteteskan ke mulut sang bayi, seiring dengan dikemilnya seutas kain berlumuran susu teriakan tangis bayi pun mulai berhenti.

“Itu susu yang diberikan adalah ASI, yang telah disedot karena payudara saya tidak memiliki puting,” kata Siti Maesaroh sambil menggendong anak pertamanya.

Siti Maesaroh tak berani menyimpan ASI dalam gelas kaca atau dot berlama-lama karena takut ASI yang diberikan kepada anaknya basi.

“Paling lamanya susu dalam gelas 15 menit pak, kalau gak habis dibuang,” ujarnya.

Menurutnya, hingga usia bayi belum genap satu bulan, ia belum berani memberikan susu formula kepada anaknya, karena selain takut bayi belum kuat, juga tetenya akan bengkak jika ASI tidak dikeluarkan.

“Nanti kalau usianya lebih dari satu bulan, mungkin akan diganti oleh susu formula,” katanya.

Namun Siti Maesaroh juga merasa bingung jika nantinya sang anak terbiasa mengkonsumsi susu formula, mengingat selama ini dirinya tidak mempunyai penghasilan.

Sang suami yang pergi entah kemana, dan orang tua yang hanya sekedar sebagai tukang sunat tradisional dirasa tak akan mampu mencukupi kebutuhan bayi.

“Kalau sekarang suka dibantu-bantu oleh bapak, tapi tak mungkin selamanya harus menjadi beban bapak,” ungkapnya.

Siti mengatakan, selama dalam kondisi pemulihan, bidan desa tiga kali dalam satu hari datang ke rumahnya untuk memeriksa kondisi dirinya dan bayinya.

“Tiap tiga hari sekali bidan desa memeriksa. Seharusnya sih saya kontrol ke RSUD, tapi melihat kondisi yang tidak memungkinkan, terpaksa hanya mengandalkan bidan desa. Masa harus ditandu lagi sama bapak tentara,” ujarnya sambil tersenyum.

Siti Maesaroh menceritakan saat dirinya ditandu oleh anggota TNI melintasi jalan terjal sepanjang lebih dari 2 kilometer.

“Saat itu saya baru turun dari ambulance desa, kondisi saya betul-betul lemah karena baru selesai menjalani operasi caesar di RSUD Cianju,” terangnya.

Menurutnya, anggota TNI yang sedang memperbaiki jalan, tiba-tiba menghampirinya, kemudian dengan menggunakan kain sarung mereka dua orang TNI itu menandu Siti Maesaroh.

“Saat ditandu rasa takut ingin jatuh ada, tapi harus bagaimana lagi,” ujarnya.

Siti Maesaroh mengucapkan banyak terima kasih kepada anggota TNI yang telah menandunya hingga sampai ke rumah.

“Saya ucapkan terimakasih, kalau tidak ada bapak tentara, mungkin saya tak tau bagaimana jadinya,” kata Siti Maesaroh.

Babinsa Mekarmulya, Serda Sartono mengatakan saat melihat Siti Maesaroh turun dari ambulance dengan kondisi yang lemah, dengan spontan ingin menandu Siti Maesaroh yang saat ini lemah tak berdaya.

“Saya bersama Serda Yusuf menandunya, karena jaraknya jauh, sesekali berganti dengan ayah Siti Maesaroh, Dede Rukman,” kata Sartono.(dil)