Beda Pendapat Soal Dentuman, Ketua Pos Pengamatan dan Kabid PVMBG

ANALISA: Petugas tengah menganalisa rekaman gempa Gunung Api Gede Pangrango.(Foto:dok for radar cianjur)
ANALISA: Petugas tengah menganalisa rekaman gempa Gunung Api Gede Pangrango.(Foto:dok for radar cianjur)

RADARCIANJUR.com – Dentuman besar yang terjadi beberapa waktu lalu, belum bisa dipastikan berasal dari Gunung Api Gede Pangrango.

Hal tersebut, disampaikan Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Gede Pangrango, Nur Rokhman Hidayat saat dikonfirmasi RADARCIANJUR.com, Senin (13/4/2020) sore.

“Kalau dentuman Jum’at hingga Sabtu (11/4) dini hari itu, kebetulan dari pos pengamatan kami tidak dapat mendeteksi suara itu,” jelasnya.

BACA JUGA : Penjelasan Mbah Rono Soal Suara Dentuman Keras

Menurutnya, suara dentuman hanya dapat dideteksi dengan alat yang dinamakan sensor infrasonic. “Di Gunung Gede sendiri belum dipasang sensor itu,” ujarnya.

Tak lupa, pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat untuk selalu mematuhi instruksi yang dikeluarkan oleh pemerintah, dan mencari sumber informasi mengenai gunung berapi hanya dari institusi resmi yang menangani aktivitas gunung api.

“Dalam hal ini, jika ada hal tentang gunung berapi, informasi jelas dan resminya ada pada Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BPPVMBG),” pungkasnya.

BACA JUGA : PVMBG Dentuman Terpantau di Pos Gunung Gede ini Penjelasan TNGGP

Sebelumnya, dentuman misterius yang terdengar di Jabodetabek pada Sabtu, 11 April 2020 dini hari membuat heboh masyarakat.

Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api dari PVMBG Kementerian ESDM Hendra Gunawan menyebut suara dentuman terdengar di pos pengamatan Gunung Gede dan Gunung Salak.

BACA JUGA : Terdengar Dentuman Keras di Jakarta Hingga Bogor Letusan Anak Krakatau PVMBG Bilang Begini

Namun, Hendra memperkirakan dentuman tersebut berasal dari hujan petir di kedua gunung tersebut. “Di Pos Gunung Salak mengidentifikasi dentuman petir, tapi cuaca tidak hujan di sekitar pos,” ujar Hendra, Sabtu (11/4) pada wartawan.

Hendra memastikan, kondisi kedua gunung masih aman alias tidak mengalami erupsi. Sementara aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda tak mempengaruhi aktivitas kedua gunung di kawasan Cianjur dan Bogor tersebut.

(dan)