Pencairannya Diduga Tak Transparan, Penerima PKH di Sukatani Kecewa

PERLIHATKAN: Seorang penerima manfaat memperlihatkan buku tabungan yang selama ini diduga ada kecurigaan. Foto: Dadan Suherman/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Penyaluran bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) semestinya diupayakan agar tepat sasaran dan transparan.

Namun hal tersebut justru belum bisa didapatkan bagi salah seorang Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kampung Gunung Putri RT 03 RW 08, Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur.

Kepala Keluarga Penerima Manfaat PKH, Iim Ibrahim (67) mengaku, dirinya sangat kecewa atas penyaluran yang menjadi haknya itu tidak transparan. Bahkan selama hampir dua tahun ia mendapat bantuan, sering mengalami kekurangan dari nominal yang seharusnya.

BACA JUGA : Pejuang Wanita di Perbatasan Cianjur – Bandung

“Dari pertama saya menjadi penerima PKH itu kan tahun 2018 akhir, tapi belum dapat nominal yang seharusnya. Bahkan sering terpotong,” ungkapnya saat ditemui radarcianjur.com, Rabu (22/4/2020)

Ia menyebut, jika sesuai dari apa yang tertera dalam buku tabungan bank yang ditunjuk untuk digunakan pencairan, nilainya itu sekitar tiga juta lebih.

“Jadi yang saya terima itu, pertama Rp 400 ribu, Rp 300 ribu dan Rp 200 ribu sampai Januari akhir 2019 kemarin. Kemudian dapat lagi perbulan sampai Februari 2020, tidak sama dengan apa yang diprint di buku tabungan. Bahkan belum pernah lebih dari satu juta setiap kali pengambilan,” tuturnya.

BACA JUGA : Lho Kok, Kendaraan Zona Merah PSBB Malah Bikin Macet Cipanas

Iim mengaku sedih, ketika pandemi Corona saat ini. Apalagi dirinya masih memiliki empat putra yang harus dibiayainya. Termasuk satu anak perempuan dan satu laki-laki yang duduk di bangku sekolah.

“Dari Desember 2018 hingga September 2019 itu, buku tabungan dan teknis pengambilan memang saya percayakan ke ketua kelompok KPM. Namun kini karena ada kejanggalan terus, jadi saya minta untuk pencairan diambil sendiri, termasuk buku tabungannya,” paparnya.

Dirinya hanya berharap, upaya untuk bisa menyekolahkan putra putrinya itu terus berjalan. Karena memang kemampuan ekonomi dirinya yang masih jauh dari kata cukup. “Supaya bisa lancar sekolah aja saya mah pak. Kalau masalah makan itu kadang suka dikasih sama anak saya yang kerja serabutan,” tukasnya.

Terpisah, Pendamping PKH Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Riska mengatakan, untuk penyaluran bantuan PKH, memang telah ada mekanismenya dan prosedur yang telah ditetapkan. Namun pihaknya mengaku, sering melakukan sosialisasi kepada para penerima manfaat tersebut.

BACA JUGA : Sungai Meluap, Jembatan Kampung Puncaksuji Cilaku Putus

“Kami sering melakukan sosialisasi pak. Tapi kalau pak iim ini, kami kadang suka mengalami kendala saat akan diajak pertemuan,” katanya.

Selain itu, ia menyebutkan, jika nominal yang seharusnya didapat oleh penerima manfaat, tidak sampai tiga juta lebih. Bahkan menurutnya, pertama KPM dapat, hanya sekitar Rp 1.200.000.

“Kalau nilainya hingga tiga juta lebih itu salah pak. Mungkin saja pak iim itu dapat transferan dari orang lain,” ucapnya.

Pihaknya pun berencana akan mengadakan pertemuan di desa bersama unsur lain termasuk dengan penerima manfaat yang memang mengeluhkan itu. Supaya bisa dijelaskan secara rinci. (dan)