Banyak Narapidana Dibebaskan, Kriminolog Cianjur: Timbul Pro Kontra Kalangan Akademisi

Lapas Klas 2B Cianjur
BEBAS: Seluruh warga binaan (wabin) di lembaga pemasyarakatan di Indonesia dibebaskan dengan total kurang lebih 30.000 orang dengan syarat masa penahanannya 2/3. Salah satunya di Lapas Klas 2B Cianjur yang membebaskan 120 wabin. FOTO: Dokumen Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) beberapa waktu yang lalu sudah membebaskan kurang lebih 30.000 warga binaan (wabin) di lembaga pemasyarakatan seluruh Indonesia.

Pembebasan tersebut berdasarkan Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor M.HH-19.PK/01.04.04 tentang Pengeluaran dan Pembebasan Narapidana dan Anak melalui Asimilasi serta integrasi dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19.

Namun dengan bebasnya warbin di seluruh Indonesia, ternyata membuat sejumlah wabin kembali melakukan kesalahannya kembali seperti yang terjadi di beberapa daerah. Melihat hal tersebut, Kriminolog Universitas Suryakancana (Unsur) Cianjur, Drs Henny Nuraeni mengatakan, di kalangan akademisi sempat terjadi pro dan kontra.

“Sempat ada pro dan kontra di kalangan akademisi dengan adanya pembebasan tersebut, seharusnya mereka (wabin, red) menjalani asimilasi dahulu sebelum dibebaskan,” ujarnya.

Lanjutnya, semua berpendapat ini merupakan kebijakan politik karena berhubungan langsung dengan situasi negara. Akan tetapi, permasalahan tersebut tidak sesederhana itu dan ternyata kekhawatiran di kalangan masyarakat terbukti.

“Seperti kita lihat, sebelumnya masyarakat khawatir dengan adanya pembebasan puluhan ribu napi tersebut dan itu terjadi saat ini di beberapa daerah. Tapi semoga saja di Cianjur tidak sampai terjadi,” jelasnya.

Menurutnya, aparat penegak hukum harus sudah melakukan justice system yang baik. Sehingga mempertimbangkan dari berbagai sisi di tengah kondisi saat ini.

“Ini tidak akan menyelesaikan masalah, tapi menghadirkan masalah baru serta merajalela. Selain itu, apakah tidak akan ada mark up dengan berkurangnya jatah makan wabin atau napi?,” tutur Dekan Fakultas Hukum Unsur Cianjur ini.

Ia pun mempertanyakan, jika alasan kemanusiaan atau kesehatan, kenapa wabin tidak dipantau terlebih dahulu agar tidak menyebar di luar.

“Kita kan tidak tau ya, apakah mereka membawa virus atau tidak? atau mungkin bisa
saja mereka carrier kan, lebih baik ada isolasi dulu di lapas,” paparnya.

Sementara itu, Kalapas Klas 2B Cianjur, Heri Aris S mengungkapkan, berkaitan dengan pembebasan asimilasi wabin, memang terdapat tanggapan negatif yang dianggap menambah kriminalitas di luar.

“Menurut saya, itu semua yang melakukan pelanggaran belum tentu yang mengikuti asimilasi,” katanya.

Lanjutnya, niat lapas tentunya memiliki tujuan baik ingin memberikan rasa kemanusiaan kepada wabin agar tidak terkena Covid-19 dan pihaknya pun berpesan agar wabin yang menjalani asimilasi tidak keluar rumah terlebih dahulu.

“Setiap wabin dipantau oleh Balai Pemasyarakatan, mereka jangan keluar rumah dulu dan setiap satu minggu sekali melakukan pelaporan. Sehingga ketika saat mengulangi kesalahan akan melanjutkan hukuman dan bahkan
bisa bertambah,” tutupnya. (kim)