Gak Beda Jauh dari Kuburan, Terminal Pasir Hayam Riwayatmu Kini

Terminal Pasirhayam Sepi
TAK ADA AKTIVITAS BERARTI: Kondisi Terminal Pasir Hayam menjadi sepi setelah terkena dampak dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan di sejumlah daerah seperti Bandung dan Jakarta. FOTO: Hakim Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah di Indonesia ternyata turut berdampak terhadap daerah di sekitarnya tak terkecuali Kabupaten Cianjur yang turut merasakan dampak dari penerapan PSBB di Jakarta dan Bandung Raya.

Dampak yang terasa yakni dari sektor transportasi menuju Cianjur Selatan yang setiap harinya tak pernah sepi penumpang terlebih di bulan Ramadan seperti saat ini.

Namun kondisinya saat ini berbeda, semua angkutan menuju selatan harus bersabar menunggu penumpang.

Seperti yang terlihat di Terminal Pasirhayam, Cilaku. Terminal ini kini bak kuburan yang jarang dikunjungi orang. Tak ada aktivitas berarti di dalam area terminal hanya sejumlah kendaraan yang melintas namun tak pernah sianggah.

Tak heran, waktu penantian pun terbilang cukup lama yakni hingga tiga jam. Bahkan bisa mencapai tiga hari tiga malam.

Dede Suwarno (52) salah satu supir kendaraan angkutan ke Cianjur Selatan mengatakan, dirinya saat ini tidak lagi menjadi supir angkutan setelah merasakan dampak sepinya penumpang.

“Sangat kerasa, mobil yang biasa saya bawa disimpen di rumah. Karena kalau dipaksa beroperasi akan semakin menyulitkan juga, belum lagi untuk biaya operasionalnya,” ujarnya.

Baginya, Ramadan kali ini tidak hanya menguji iman dirinya di kala berpuasa tapi turut menguji kesabarannya.

“Biasanya lagi bulan puasa gini banyak penumpang yang ke selatan, penumpang dari Jakarta yang pada pulang. Tapi sekarang malah sepi banget,” ungkapnya.

Pendapatannya pun merosot tajam. Biasanya dalam sehari, ia bisa menghasilkan pendapatan kotor hingga satu juta rupiah dan bersih sebesar Rp500 ribu. Namun saat ini hanya sebesar Rp120 ribu, itu pun belum untuk biaya operasional dan setoran.

“Kita sebagai supir angkutan berharap dapat diperhatikan juga oleh pemerintah, bahkan yang katanya akan ada bantuan hingga saat ini belum kita terima sama sekali,” paparnya.

Sementara itu, Kasubag TU Terminal Pasir Hayam, Titik Aisyah mengungkapkan, semenjak tanggal 18 Maret 2020 diterapkannya pemberantasan penyebaran Covid-19 mulai membuat terminal sepi.

“Dari Maret kemarin sudah sepi, diperparah lagi dengan adanya PSBB di beberapa daerah seperti Jakarta dan Bandung,” jelasnya.

Ia menambahkan, biasanya angkutan hanya menunggu penumpang tidak lebih dari satu jam. Bahkan dalam waktu setengah jam saja sudah berangkat, tapi kini berbeda harus menunggu hingga tiga jam.

“Kalau sebelumnya terlihat angkutan itu menunggu cuma setengah jaman dan paling lama juga satu jam sudah langsung jalan. Tapi sekarang malah tiga jam juga kayaknya belum tentu,” tutupnya. (kim)