Berburu Tanda Tangan Imam di Bulan Ramadan

RADARCIANJUR.com – Kisah paling berkesan ketika memasuki bulan Ramadan, khususnya bagi para pelajar yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) adalah buku pegangan bulan puasa.

Menariknya, di setiap kegiatan tersebut pada buku pegangan bulan puasa itu, harus ditandatangani oleh orangtua dan imam tarawih atau Ustadz yang memberikan ceramah atau kultum, sebagai bukti bahwa para pelajar itu memang betul-betul melaksanakan aktivitas selama bulan Ramadan.

Namun kini, buku yang di dalamnya berisi kolom-kolom berkaitan dengan kegiatan-kegiatan di bulan Ramadan, seperti puasa, tarawih, tadarus, salat wajib, dan lainnya itu tak ada, karena imbas Pandemi Corona, namun buku pegangan puasa itu diganti dengan buku siswa masing-masing sebagai catatannya, seperti yang terlihat di Masjid Ciherang Pacet Cianjur.

Seperti yang dilakukan Antik (12) Siswi Kelas VI SD ini menuturkan, pada setiap selesai tarawih, aku selalu berjuang, berlomba-lomba dengan anak-anak kampung lain yang masih sama duduk di bangku SD untuk dapat menyodorkan buku kegiatan Ramadan dan ditandatangani oleh imam tarawihnya.

“Seru aja kalau bulan puasa tiba, terus ada tugas mengisi buku Ramadan. Kan jadi ada kegiatan rutinan setahun sekali ini,” katanya pada radarcianjur.com, Kamis (30/4/2020).

Menurutnya, jelang akhir tarawih, biasanya sudah mulai merasa galau. Sebentar-sebentar melongok ke arah imam tarawih, takut kalau-kalau buku kegiatan ramadannya terselip dan tidak ditandatangani oleh imam. Begitu salam yang terakhir, teman-teman yang lainnya juga ikut langsung menghambur dan berlarian untuk mendapatkan posisi antrian yang pertama.

“Aku baru bisa tersenyum lega saat pulang tarawih dengan menenteng buku kegiatan ramadan yang sudah ditandatangani oleh imam tarawih,” ungkapnya.

Diungkapkannya, untuk mengakali dengan ditandatangani sendiri, sebetulnya bisa saja, agar supaya tidak perlu susah payah minta tandatangan imam tarawih. Tapi, untuk berbuat curang tersebut ternyata dibutuhkan nyali yang kuat. Dan nyatanya, Riska tidak punya cukup nyali untuk melakukan kecurangan tersebut.

“Alhasil saya melakukan semua yang diperintahkan sekolah melalui buku kegiatan Ramadan tersebut lah,” kata Riska sembari tersenyum.

Ada rasa kebanggaan dan kepuasan tersendiri ketika setiap kolom kegiatan ramadan dapat terisi dengan penuh. Biasanya, di sekolahnya dan teman-teman saling menunjukkan buku kegiatan ramadan masing-masing dan bercerita tentang suka duka selama mengisi buku tersebut.

“Memang biasanya suka ada kisah dan kesemuanya merupakan kisah-kisah seru loh kang dan lucu-lucu. Ada yang imam tarawihnya galak, ada yang kelupaan menandatangankan buku, ada yang curang ditandatangani sendiri, ada juga yang semua kolom terisi penuh,” tuturnya.

Sementara itu, Imam dan sekaligus Khotib saat Kultum Subuh, Ustadz Ahmad Saepulloh mengatakan, anak-anak sungguh begitu antusias dengan adanya tugas buku Ramadan itu. Terlihat, dari saling berlomba-lomba untuk mendapatkan tanda tangan yang disodorkan kepadanya.

“Jadi setiap setelah tarawih itu buku kegiatan Ramadan banyak berjajar yang harus saya tandatangani,” ujarnya.

Menurutnya, hal inilah yang menjadi semangat kembali bagi para imam dan khatib ceramah ketika selesai melaksanakan salat malam itu. “Walaupun dengan melaksanakan salat tarawih itu cukup menguras tenaga, tetapi ketika adanya para pelajar itu mensodorkan buku Ramadan, saya jadi teringat dan kembali bergairah dalam beribadah lainnya,” pungkasnya. (dan)