Kebun Raya Cibodas-LIPI Kembali Perkenalkan Spesies Asing

ASING: Invasive Alien Species di KRC-LIPI Cibodas.(Foto:Dokumentasi For Radar Cianjur)
ASING: Invasive Alien Species di KRC-LIPI Cibodas.(Foto:Dokumentasi For Radar Cianjur)

RADARCIANJUR.com-Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas-LIPI kembali memperkenalkan tumbuhan jenis Invasive Aliens Species atau yang populer disingkat (IAS).

Istilah kata “Aliens Species” dan kata “Invasive”, adalah bukan suatu mahluk ruang angkasa yang menginvasi bumi, namun tumbuhan yang terjadi dari dampak negatif yang ditimbulkan dari introduksi spesies asing.

Yaitu spesies hayati eksotik dimana awal kehadirannya dibawa dan diperkenalkan secara sengaja untuk pemanfaatan potensinya.

“Walau demikian ada juga yang terbawa secara tidak sengaja. Bahkan IAS menimbulkan dampak negatif pada ekosistem alami yang disinggahinya. Berupa tumbuhan maupun hewan yang dibawa keluar dari habitat asalnya,” kata Peneliti P2KTKR Kebun Raya Cibodas, Decky Indrawan Junaedi, Ph.D.

Selain itu, ia menyebut, IAS pun perlu dikendalikan agar dapat dimaksimalkan potensi pemanfaatannya dan diminimalisir potensi negatifnya.

Bila tidak dikendalikan dapat menjadi salah satu faktor ancaman penyebab penurunan kualitas biodiversitas atau kepunahan dari suatu jenis mahluk hidup di suatu daerah.

Mengamati paparan diatas, lanjut Decky, ada beberapa istilah yang perlu diperkenalkan definisinya.

Pertama, istilah Introduksi, dalam dunia konservasi diartikan sebagai pelepasan tumbuhan atau hewan dari hasil penangkaran ataupun hasil proses alami, keluar daerah penyebaran habitat aslinya menuju daerah baru yang awalnya tidak memiliki tumbuhan atau hewan tersebut.

Kedua, Aliens Species adalah spesies asing yang dibawa atau terbawa masuk ke suatu ekosistem baru secara tidak alami, bisa terdistribusikan melalui transportasi darat, laut ataupun udara.

Ketiga, Invasive Species adalah spesies baik asli atau bukan asli yang secara luas mempengaruhi habitatnya.

“Jadi umumnya spesies ini dapat menimbulkan kerusakan lingkungan dan berdampak negatif pada kehidupan manusia,” katanya.

Decky memaparkan, contoh kasus IAS yang telah dianggap merusak dan mengancam ekosistem di beberapa wilayah, yaitu keberadaan eceng gondok (eichhornia crassipes).

Di jaman penjajahan Belanda, eceng gondok didatangkan dari Amerika Latin ke Indonesia. Seiring berjalannya waktu, seperti halnya yang terjadi di Sungai Rawa Pening, Jawa Tengah dan beberapa sungai di daerah lain, eceng gondok hidup mendominasi dan tidak terkendali.

“Di sana keberadaannya sudah hampir menutupi seluruh permukaan sungai Rawa Pening. Dengan kenyataan tersebut, itu bisa dianggap telah menimbulkan suatu dampak negatif terhadap ekosistem di daerah, hewan dan tumbuhan air yang ada di sana,” paparnya.

“Pada titik situasi dan kondisi inilah spesies tumbuhan eceng gondok yang awalnya hanya sebagai tumbuhan eksotik, telah berubah bersifat menjadi invasif atau lebih dikenal dengan istilah Invasive Alien Species,” sambung Decky.

Menurutnya, IAS sudah menjadi isu global. Misalnya di CBD (Convention of Biological Diversity) dan IPBES, yang memasukan IAS dalam daftar salah satu faktor ancaman yang mengakibatkan kepunahan dari keanekaragaman hayati dalam suatu ekosistem.

Decky menegaskan, bahwa di Kebun Raya Cibodas sendiri IAS merupakan suatu hal yang dianggap penting untuk diteliti.

ASING: Invasive Alien Species di KRC-LIPI Cibodas.(Foto:Dokumentasi For Radar Cianjur)
ASING: Invasive Alien Species di KRC-LIPI Cibodas.(Foto:Dokumentasi For Radar Cianjur)

Kebun Raya Cibodas memiliki koleksi tumbuhan eksotik yang didatangkan dari luar Indonesia.

Tumbuhan eksotik ini didatangkan karena dianggap memiliki potensi sebagai tumbuhan obat, tumbuhan pangan, tanaman hias, dan lainnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, beberapa jenis tanaman eksotik tersebut saat ini sudah bersifat menjadi invasif di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) yang berdampingan langsung dengan Kebun Raya Cibodas.

Penangan IAS di TNGGP menjadi sangat penting, karena TNGGP merupakan daerah konservasi alam yang bernilai internasional (sudah ditetapkan sebagai cagar biosfer).

“Jadi secara kesimpulannya, bahwa penelitian IAS di Kebun Raya Cibodas berdasarkan pada dua bertujuan utama. Yakni meminimalisir dan menekan dampak negatif IAS, serta memaksimalkan potensi manfaat dari tumbuhan eksotik sesuai dengan daerah yang ditempatinya.

(dan)