Okupansi Hotel di Cipanas Naik

Ilustrasi Hotel
Ilustrasi

RADARCIANJUR.com -Jelang penerapan new normal pasca Penerapan Berskala Besar (PSBB) di Kabupaten Cianjur, tingkat hunian atau okupansi hotel dan restoran telah mengalami peningkatan 10 hingga 50 persen sejak beberapa hari terakhir.

“Alhamdulillah telah mulai membaik. Pengunjung hotel dan restoran telah mengalami peningkatan, walaupun belum begitu signifikan dan menyeluruh jelang new normal di Cianjur ini,” ujar Ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Badan Pimpinan Cabang (BPC) Cianjur, Nano Indrapraja, Senin (8/6).

Jika dirata-ratakan, Nano menyebut, tingkat peningkatan pengunjung hotel dan restoran berkisar antara 10 hingga 15 persen. Bahkan sebagian ada yang mencapai 50 sampai 70 persen pergerakannya, jika dibandingkan pada saat darurat Covid-19 dan PSBB kemarin.

“Hampir sebagian besar hotel dan restoran sudah mulai beroperasi. Walaupun beberapa juga masih ada yang belum beroperasi karena terkendala modal,” ujarnya.

Meski begitu, Nano mengatakan, teknis pelayanan yang diberikan hotel dan restoran tetap mengutamakan protokol kesehatan bagi para konsumen yang datang. “Jangan terlalu euforia dulu, harus tetap waspada dan utamakan protokol kesehatan yang telah di diimbau oleh pemerintah,” ujarnya.

Nano menuturkan, secara umum, baik anggota maupun non anggota PHRI Cianjur telah membiasakan menerapkan pola hidup sehat sesuai protokoler kesehatan.

“Saya sudah menyampaikan sebelum menjalankan itu, buat standar prosedur kesehatan. Kemudian buat simulasi, lalu sosialisasi, dan terakhir dipromosikan. Walaupun kami juga masih menunggu Peraturan Bupati (Perbup) mengenai pariwisata di Cianjur,” tuturnya.

Sementara itu, Sekjen PHRI Pusat, Maulana Yusran menyebutkan, pada prinsipnya usaha hotel dan restoran sudah siap menerapkan konsep new normal yang mengacu pada protokol kesehatan.

Sebenarnya protokol disiapkan sejak Maret lalu, ketika mulai ada kasus positif Covid-19 di Indonesia. ’’Sekarang kami sudah mengeluarkan satu protokol baru, mendetailkan protokol yang pertama,’’ terangnya. Protokol itu menjadi panduan bagi pemilik hotel dan restoran dalam menjalankan usahanya.

Yang diatur kali pertama adalah internal karyawan. Kemudian, barang-barang yang masuk. ’’Kalau tamu-tamu yang mau masuk hotel itu, yang paling penting ada pengecekan suhu tubuh,’’ lanjut Maulana. Pihak hotel maupun restoran juga menyiapkan wastafel untuk mencuci tangan.

Dalam pengoperasian hotel tentu juga ada perubahan. Misalnya, dalam hal membersihkan kamar. ’’Pasti kamar itu akan disterilkan, disemprot disinfektan. Itu sudah kewajiban,’’ tuturnya. Dengan begitu, setiap tamu yang menginap mendapat jaminan bahwa kamarnya disterilkan sebelum ditempati. Termasuk di area publik seperti eskalator.

Mengenai aktivitas leisure di hotel, pihaknya masih mendiskusikan dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif beserta Kemenkes. Misalnya, pola penyajian makanan secara buffet (prasmanan). Atau bagaimana nanti tamu hotel menggunakan gym dan spa, juga fasilitas-fasilitas leisure lainnya.(dan/jp)