PLN Sebut Lonjakan Tagihan Listrik Akibat Meningkatnya Pemakaian

RADARCIANJUR.com – Banyaknya perbincangan akan lonjakan tagihan listrik menjadi sorotan belakangan ini, PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyebut tagihan listrik melonjak akibat pemakaian listrik yang meningkat terutama selama pandemi terjadi yang kebanyakan masyarakat melakukan work from home (WFH).

Tanpa disadari dengan melakukan wfh, semua kegitan difokuskan di rumah, mulai dari bekerja, belajar dan aktifitas lainnya, oleh karena itu PLN menyebut 98 persen lonjakan tagihan listrik karena pemakaian listrik rumah tangga disebabkan pelanggan rumah tangga banyak melakukan aktivitas di rumah.

“Untuk penghitungan atas pencatatan meteran listrik oleh petugas lapangan telah dilaksanakan sesuai kebijakan pemerintah, sedangkan untuk tarif listrik masih sama sejak tiga tahun lalu, kami memastikan kenaikan tagihan listrik pelanggan sejak tiga bulan terakhir disebabkan tingginya pemakaian listrik oleh masyarakat terutama pelanggan rumah tangga,” tutur Senior Manager Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN UID Jawa Barat Rino Gumpar Hutasoit saat pertemuan secara daring.

PLN menerangkan adanya kebijakan pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mengakibatkan banyak pelanggan atau masyarakat beraktivitas hanya di rumah dan menjadi salah satu penyebab meningkatnya penggunaan listrik.

“Banyak pelanggan yang melakukan aktivitas di rumah sehingga pemakaian listrik ikut naik, tanpa disadari seperti menyalakan televisi lebih sering, penggunaan AC lebih banyak, menyalakan gadget, laptop atau barang-barang elektronik lebih sering dan lebih meningkat,” terangnya.

Manajer PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Cikarang, Ahmad Syauki mengatakan, PLN tidak menaikkan tarif listrik, namun, tagihan listrik naik karena ada peningkatan penggunaan daya listrik selama PSBB yang diikuti dengan bekerja dari rumah.

“Kami sampaikan bahwa PLN tidak menaikkan tarif listrik. Ini perlu dipahami bersama, untuk kenaikan pembayaran tagihan listrik adalah akibat adanya kenaikan pemakaian daya selama bekerja dari rumah,” katanya.

Secara nasional PLN bahkan membuat kebijakan keringanan pembayaran hingga 100 persen dan potongan sebesar 50 persen kepada pelanggan kategori tertentu.

Pelanggan kategori bisnis dan industri dengan daya 450 KVA mendapat keringanan penuh atau gratis bayar mulai Juni hingga September tahun ini, sementara pelanggan rumah tangga dengan daya 450 KVA mendapat keringanan serupa pada periode April-Juni.

“Pelanggan rumah tangga kategori R1 subsidi dengan daya 900 KVA mendapat keringanan pembayaran sebesar 50 persen pada periode April hingga Juni,” katanya.

Melalui video yang diputarkan tentang mekanisme penagihan listrik menggunakan rata-rata tiga bulan terakhir, untuk april hingga juni, namun pada saat bulan juni terjadi peningkatan lonjakan tagihan listrik, PLN menjelaskan lonjakan tersebut diakibatkan dengan adanya lonjakan pemakain listrik yang ternyata belum tertagihkan oleh PLN karena menggunakan tagihan dari rata-rata penggunaan tiga bulan terakhir, akibatnya ada kurang bayar dari pelanggan, dan kurang bayar listrik bulan april dan mei akhirnya dibebankan pada tagihan listrik bulan juni sehingga mengalami kenaikan.

“Dengan adanya peningkatan tagihan listrik di bulan juni, kami memberikan relaksasi pelanggan yang mengalami tagihan pada bulan Juni melonjak lebih dari 20 persen daripada bulan Mei akibat penagihan menggunakan rata-rata tiga bulan terakhir, maka kenaikannya maksimal dibayar sebesar 40%, dan sisanya dibagi rata dalam tagihan 3 bulan ke depan dan skema ini diberlakukan sama untuk semua pelanggan, baik pelanggan subsidi maupun nonsubsidi,” terangnya.(ars)