Pakar Hukum: Polri Kini Seperti ‘Dinas sosial’

Satlantas delman becak
BERKAH: Pengemudi delman dan becak mendapatkan insentif dari Satlantas Polres Cianjur. FOTO: Dikyasa Polres Cianjur

RADARCIANJUR.com – Pakar Hukum Universitas Suryakencana (Unsur) Cianjur, Yudi Junadi menilai, sosok Kepolisian Republik Indonesia (Polri) hari ini makin profesional dan
mandiri.

Bahkan kesejahteraan prajurit makin baik, termasuk keluhan anggaran operasional yang tersumbat nyaris tak pernah terdengar lagi.

Namun perlu diingatkan, bahwa akhir-akhir ini Polri tampak sibuk dengan aktifitas sosial dari bagi-bagi sembako hingga memperbaiki rumah warga.

“Polri seperti ‘Dinas sosial’. Tentu saja aktifitas charity itu bagus. Tapi tidak boleh menggerus tugas utama Polri yaitu penegakan hukum,” kata Yudi kepada radarcianjur.com, Jum’at (3/7/2020) sore.

Selain itu, Yudi menilai, Polri khususnya Polres Cianjur, belum optimal dalam penerapan hukum. Misal dalam kasus narkotika, korupsi, penipuan berhenti di pidana asal (predicate
crime).

Padahal, lanjut Yudi, bila cukup bukti, dapat diterapkan tindak pidana pencucian uang atau money loundering.

“Penerapan money loundering di wilayah hukum Cianjur perlu diterapkan, agar para “pemain” jera. Tidak dapat menggunakan uang hasil kejahatannya,” ujar Yudi.

Dalam kaitan lainnya, menurut Yudi, untuk kecelakaan lalu lintas di tempat yang itu-itu terus seperti di wilayah Gekbrong, Cugenang, dan Ciloto, dengan sebab yang sama pula akibat rem blong, harus ditindak dengan cara khusus.

“Buat rekayasa jalan, pemeriksaan kendaraan dan sopir lebih ketat serta berlanjut. Tidak hanya saat ada kecelakaan. Bus atau Truk yang berulang alami kecelakaan, rekomendasikan untuk dicabut izin lewat Cianjur,” katanya.

Kemudian, lanjut Yudi, minuman keras (Miras) oplosan yang bahaya bagi kesehatan banyak dikonsumsi kalangan remaja SMP/SMA. Bahkan hampir tiap tahun terjadi kasus remaja meninggal karena miras.

“Jadi penjual miras hanya dikenakan sanksi jual minuman beralkohol tanpa ijin. Sanksinya pun ringan, dan tak sesuai dengan akibat yang ditimbulkannya,” ujar Yudi.

Yudi menambahkan, warung-warung penjual miras di beberapa wilayah pun masih tetap berjualan. Bahkan menurutnya, nyaris tak ada tindakan dari aparat hukum.

“Apakah karena aparat tak tahu ada warung miras atau tahu tapi tak berani menindak karena dibekingi oknum atau aparat itu sendiri, karena jadi bagian dari sindikat miras ilegal?,” imbuhnya. (dan)