Menyusuri Sejarah Kabupaten Cianjur yang Pernah Jadi Ibukota Periangan

Rachmat Fajar memperlihatkan gambar leluhurnya yakni Bupati Cianjur ke 10. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Di masa kolonial, Kabupaten Cianjur sempat menjadi ibu kota Karesidenan Priangan sebelum ibu kotanya dipindahkan ke Bandung, selain itu tercatat ada beberapa Bupati Cianjur di masa lalu memiliki kemampuan luar biasa di masa Hindia Belanda.

Salah seorang ahli sejarah, Rachmat Fajar mengatakan Cianjur memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi di masa silam. Bahkan namanya pun harum di masa hindia belanda, jelas ini merupakan kebanggan tersendiri.

“Dulu istilah Priangan Barat atau West Preanger sendiri pertama muncul dalam karya literatur Hindia Belanda tahun 1819, yang menyebutkan bahwa ibu kota di Karesidenannan Priangan ialah Cianjur. Namun pada tahun 1864 ibu kota Priangan dipindahkan ke Bandung untuk menghindari dampak negatif dari aktivitas vulkanik Gunung Gede,” katanya kepada radarcianjur.com (12/7/2020)

Rachmat Fajar, yang juga keturunan bupati Cianjur ke-10, mengatakan Cianjur, merupakan wilayah disegani di masa silam sehingga dengan berbagai potensi yang ada bisa menjadi ibu kota Priangan. Wilayah Priangan Barat sudah dikenal sejak zaman Hindia Belanda sebagai wilayah penghasil kopi dan teh karena tanahnya yang sangat subur. Selain itu sosok bupati terdahulu memiliki kharismatik dan pengaruh kepada wilayah lainnya, seperti halnya Bupati Prawiradiredja II bupati ke 7 Cianjur di tahun 1816, sudah menguasai bahasa melayu dan latin ketika bupati tanah jawa belum mampu menguasainya, hal ini terbukti dengan adanya kamus besar sunda melayu ada di arsip nasional.

“Uyut saya yaitu R.A.A.Prawiradiredja II (bupati Cianjur ke-10) yang lahir di Cianjur pada 21 April 1901, beliau merupakan sosok kharismatik dan disegani. Bahkan beliau sosok bupati Cianjur yang terlibat bersama Tirto Adhi Soerjo dalam penerbitan surat kabar Soenda Berita dan Poetri Hindia yang merupakan berita bahasa melayu pertama,” ujarnya.

Menurutnya seorang bupati Cianjur terdahulu memerlihatkan beliau tidak hanya sekedar memimpin, namun memiliki keistimewaan. Tak sampai disitu R.A.A Prawiradiredja II mengajak warga Cianjur mencintai seni budaya yang menjadi nyawa Cianjur sehingga Cianjur punya identitas.

“Sebelumnya dalam babat tanah Cianjur Tumenggung Adipati Ariya Kusumaningrat atau lebih dikenal dengan nama Dalem Pancaniti, merupakan tokoh Cianjur yang menjabat sebagai  Bupati Cianjur ke-VIII pada kurun waktu 1834-1864. Beliau tidak cukup memimpin pemerintahan namun menjadi panutan masyarakat yakni ulama. Sampai makna bait Cianjuran, banyak serapan dari ayat suci Al – Quran sehingga menjadi karya seni luhur dan melanglangbuana,” ujarnya.

Dijelaskannya dalem Pancaniti bertahun-tahun mendalami pantun Sunda, ia kemudian berhasil menggubah sajian kesenian itu bersama saudara-saudaranya. Pantun yang merupakan seni rakyat menjadi semacam seni vokal dengan iringan kacapi yang disesuaikan dengan peradaban lingkungan kaum menak.

“Kini kami di Bumi Ageung menyimpan berbagai peninggalan sejarah Cianjur, dan menjadi edukasi sejarah bagi masyarakat luas. Rumah budaya ini bisa memperkenalkan masyarakat terhadap sejarah dan keistimewaan Cianjur. Saya harapkan Cianjur ke depan bisa mempertahkan tata krama dan adat istiadat, sehingga kehidupan Cianjur bisa aman tentram. Tak hanya itu pemerintahan pun bisa mengayomi dan memimpin masyarakatnya dengan arif dan bijaksana,” pungkasnya. (dil)