Pentingnya Menjaga Hubungan Baik Humas dan Wartawan

KEGIATAN: Bedah buku Hukum dan Etika Humas, yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung bekerjasama dengan penerbit Simbiosa.

RADARCIANJUR.com – Sudah tidak zamannya lagi lembaga dan para praktisi hubungan masyarakat (humas) tidak memiliki hubungan yang baik dan kuat dengan media atau wartawan. Karena humas tanpa wartawan tidak akan maksimal, begitu pun wartawan tanpa humas tidak bisa mendapatkan bahan berita.

Itulah wacana yang mengemuka dalam kegiatan bedah buku Hukum dan Etika Humas, yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung bekerjasama dengan penerbit Simbiosa, Jumat (17/7/2020).

Acara diselenggarakan secara online itu, menampilkan empat narasumber, yaitu Dr. Darajat Wibawa sebagai Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi sekaligus penulis buku, Hilman Hidayat, M.Si (CEO Ayomedia Network), Anne Rahmawati, M.Si (Kasubag Dokumentasi Pimpinan Pemda Kabupaten Bandung), dan Riyan Hardiyana, M.I.Kom (Media Relations Officer PT. Pos Indonesia (persero).

Serta dihadiri 260 orang dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, praktisi, dan masyarakat umum ini, disediakan doorprize untuk para penanya terbaik, yang disediakan khusus dari penerbit Simbiosa.

Acara bedah buku ini sering dilakukan oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi, sebagai bukti komitmen dalam mengembangkan ilmu dan publikasi ilmu dakwah dan komunikasi. Banyak SDM Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang menulis buku salah satunya di penerbit Simbiosa.

“Kehadiran buku ini tentu saja menambah wawasan dan pengetahuan para praktisi humas dalam menjalankan tugasnya, agar tidak melanggar etika dan hukum. Karena tidak sedikit praktisi humas yang belum akrab dengan etika dan hukum humas,” ujar Dr. Ahmad Sarbini, M.Ag, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Pada kesempatan yang sama Direktur Penerbit Simbiosa, Dra. Rema Karyani Soenendar mengatakan, bahwa humas harus bisa berempati pada wartawan, dan memahami apa yang dibutuhkan wartawan. Humas pun harus memiliki hubungan baik dengan wartawan agar tidak terjadi kesalahpahaman sampai konflik. Humas harus mengetahui seluk beluk etika dan humas.

“Sedikitnya sudah ada empat buku yang di bedah, dan banyak penulis dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang produk menulis buku di penerbit kami. Semoga ke depannya kehadiran buku komunikasi bisa mencerahkan masyarakat,” katanya.

Sementara itu, penulis buku Hukum dan Etika Humas, Darajat Wibawa mengingatkan bahwa wartawan dan humas harus saling memahami dan mengetahui kapasitasnya dan perannya.

“Mana yang boleh ditulis oleh wartawan dan mana yang tidak boleh ditulis oleh wartawan. Selain itu, dibahas juga embargo, hak jawab, dan off the record,” ujarnya.

Di lembaga humas harusnya memiliki sistem kehumasan, sehingga ketika ada pergantian pejabat humas sistem ini sudah ajeg.

“Media relations hubungan yang baik akan membangun kepercayaan dan penghormatan satu sama lain, dan hubungan humas dan wartawan selalu membangun hubungan yang baik. Dan humas harus bisa melakukan pendekatan kepada redaktur, reporter, dan ada konfirmasi dari wartawan sebelum berita naek cetak. Dan humas jangan sering mengatakan no comment. Buku ini relevan dengan aktivitas kehumasan di PT Pos Indonesia,” ujar Riyan Hardiana.

Media sebagai kontrol sosial dan humas sebagai penyedia informasi. Banyak media yang sudah melakukan kerjasama dengan humas pemerintah. Ada banyak manfaat ketika humas melakukan hubungan baik, di antaranya humas menjadi tahu untuk tidak membuat rilis yang seremonial. “Kehadiran buku ini bermanfaat untuk kami di humas pemerintah daerah dalam menjalankan tufoksi,” ujar Anne Rahmawati selaku praktisi humas di pemerintah Kabupaten Bandung.

Humas dan wartawan harus memiliki hubungan baik, tetapi harus ada etika yang sama-sama ditaati bersama. Dan ketika menghadapi masalah yang menyangkut lembaganya, humas harus memperkenalkan persoalannya secara jujur, tidak berbohong, dan menjelaskan apa adanya. Langkah berikutnya adalah memberi solusi. Humas yang hebat sudah menyiapkan support data ketika ada pertanyaan dari wartawan.

“Wartawan yang berbohong harus dipenjara dan humas berbohong juga dipenjara dengan menggunakan UU ITE. Karena fenomena sekarang, humas sudah menyewa hacker, buzzer, untuk mengcounter pemberitaan yang jelek dari media. Tugar humas menyampaikan kebenaran, memberikan klarifikasi, dan bukan mengintervensi apalagi sampai mengubah berita,” ujar Hilman Hidayat selaku CEO Ayomedia Network.(ndk/*)