Irda Kabupaten Cianjur Panggil Perawat RSUD Cianjur Yang Dipecat Sepihak

Kantor Inspektorat Daerah (Irda) Kabupaten Cianjur di Jalan Raya Bandung Sadewata Cianjur.(foto: istimewa)
Kantor Inspektorat Daerah (Irda) Kabupaten Cianjur di Jalan Raya Bandung Sadewata Cianjur.(foto: istimewa)

RADARCIANJUR.com – Inspektorat Daerah (Irda) Kabupaten Cianjur memanggil pihak korban pemecatan perawat RSUD Sayang, Cianjur yang dilakukan secara sepihak. Pemanggilan tersebut bertujuan untuk mengetahui kronologis serta keseharian korban saat bekerja sebagai perawat. Kedatangan pihak korban turut didampingi beberapa anggota ormas Pemuda Pancasila dan kuasa hukum sejak pukul 10.00 WIB.

Kuasa Hukum Risma, Renie mengatakan, kedatangannya merupakan pemeriksaan terkait kronologis pemecatan korban oleh Inspektur Bagian Khusus (Irbansus) Inspektorat Daerah (Irda) Kabupaten Cianjur.

“Hari ini hanya dimintai keterangan mengenai kronologis dari awal beliau bekerja hingga terjadinya pemecatan. Karena di surat tertulis tertanggal 13 Juli 2020, tapi baru diterima tanggal 16 Juli 2020 atau hari Kamis,” ujarnya.

Lanjutnya, kliennya tidak sama sekali terlibat atau masuk keanggotaan partai politik (parpol), sehingga pihaknya mempertanyakan keabsahan surat pemecatan tersebut.

“Beliau tidak pernah mengikuti atau masuk menjadi anggota parpol, terlebih pengurus. Sampai saat ini pihak rumah sakit belum memberikan alasan akurat, kita belum mendapatkan jawaban yang memuaskan,” tegasnya.

Pihaknya pun meminta kepada pihak RSUD Sayang, Cianjur untuk mencabut SK pemecatan dan kembali ditempatkan bekerja serta memberikan sanksi tegas kepada jajaran direksi yang turut terlibat dalam pembuatan SK pemecatan tersebut.

“Proses hukum masih berlanjut, kesepakatan damai belum ada sama sekali. Kalau misalkan tidak ada akan kita gugat ke PTUN,” ungkapnya.

Sementara itu, Irbansus Irda Kabupaten Cianjur, Endan Hamdani menjelaskan, pemanggilan yang bersangkutan mengenai kronologis dan keseharian dalam bekerja. Hasil dari pemeriksaan saat ini tidak bisa dipublikasikan karena bersifat rahasia.

“Kita hanya meminta keterangan dari korban dari mulai keseharian bekerja dan kronologis diterimanya surat pemecatan tersebut. Sementara hasilnya tidak bisa dipublikasikan karena bersifat rahasia,” tuturnya.

Ia menambahkan, pihak Irda Kabupaten Cianjur pun sudah melayangkan surat kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Cianjur agar bisa memberikan jawaban mengenai status atau data kepengurusan partai.

“Bahkan kita juga layangkan surat ke KPU Cianjur untuk meminta keterangan mengenai data dan status beliau, apakah betul sebagai pengurus partai atau ada datanya di KPU Cianjur,” jelasnya.

Lanjutnya, setelah mendengar keterangan dari pihak korban, pihak Irda Kabupaten Cianjur akan mengkonfirmasi kepada pejabat rumah sakit setelah mendapatkan jawaban dari pihak korban.

“Mudah-mudahan Jumat sudah selesai, karena kita juga mendapatkan undangan dari Komisi A DPRD Kabupaten Cianjur untuk dimintai keterangan terkait persoalan ini,” tutupnya. (kim)