Gawai Jadi Peran Utama Pendorong Kekerasan Seksual Anak

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com- Kekerasan seksual terhadap anak di Kabupaten Cianjur begitu mengkhawatirkan. Belum lama ini pada hari Kamis (23/7) Hari Anak Nasional 2020 telah diperingati, namun fakta di lapangan masih ada anak yang belum mendapatkan perhatian serta perlakuan layaknya terhadap seorang anak.

Baru-baru ini, di Kecamatan Agrabinta Cianjur Selatan, tujuh remaja berusia rata-rata 15 tahun menggilir gadis di bawah umur yang diperkirakan usianya di bawah 14 tahun.

Berbagai pihak mengecam prilaku kekerasan seksual terhadap anak tersebut. Psikolog, Retno Lelyani Dewi mengungkapkan, dari hasil risetnya terhadap para pelaku kekerasan seksual terhadap anak yang sudah diwawancarai, pelaku tidak memiliki rasa menyesal dan malu dengan apa yang telah dilakukan.

BACA JUGA : Bejat! Tujuh Remaja Asal Agrabinta Gauli Gadis di Bawah Umur

“Pemeriksaan yang saya lakukan terhadap beberapa pelaku yang rata-rata anak dan remaja menunjukkan mereka ini tidak merasa ada masalah dengan prilakunya. Tidak ada ekspresi menyesal dan malu karena terhadap apa yang sudah dilakukan,” ujarnya.

Lanjutnya, otak manusia merespon lingkungan sesuai dengan dorongan dan kebutuhan yang dimiliki. Selain itu, tayangan-tayangan yang ditonton harusnya memiliki nilai produktif, edukatif dan memberikan hiburan. Akan tetapi banyak anak dan remaja dengan situasi belajar di rumah tak sedikit melakukan penelusuran hal-hal lain.

“Saat otak melihat tayangan yang tidak biasa, pastilah tayangan itu direkam dalam ingatan. Kebanyakan akan mengulangi dan akhirnya terdorong ingin mencoba. Artinya kondisi ini terbentuk karena orang tua kurang memberikan bimbingan. Sehingga anak tidak punya filter saat membuka tayangan tersebut,” ungkapnya.

Sehingga secara langsung, gawai atau ponsel menjadi peran pendukung terjadinya kejahatan seksual terhadap anak. Pasalnya, lanjut Retno, beberapa pelaku menyebutkan terinspirasi dari ponsel. Selain gawai, faktor kedua yakni lingkungan atau lingkungan sosial.

“Ini (lingkungan, red) juga mempengaruhi anak dan remaja. Lingkungan sosial, teman sebaya yang buruk akan mendorong anak untuk melakukan hal-hal yang dianggap ‘hebat’ dalam arti negatif,” jelasnya.

Dirinya pun mengimbau kepada orang tua sebagai peran utama dalam langkah penanggulangan untuk bisa mengajak anak maupun anggota keluarga lainnya berbincang dan berbagi cerita dari mulai keseharian serta saling bertukar pikiran. Hal tersebut diyakini sebagai salah satu langkah awal pencegahan.

“Saya sarankan minimal 15 menit. Tapi kok ya tegaa cuma 15 menit?? Bahkan kalau bisa lebih dari itu. Karena perkembangan anak kita tidak akan pernah berulang. Saya biasanya minta orang tua cek dan dampingi anak jika mungkin, tapi jika terlalu sibuk ya minimal 15 menit,” paparnya. (kim)