Gubernur Sesalkan Kasus Gadis Korban Perkosaan Agrabinta

BEJAT: Tujuh remaja tega memperkosa gadis di bawah umur dalam kondisi mabuk. (Foto Istimewa)

RADARCIANJUR.com -Kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh tujuh remaja di Kecamatan Agrabinta beberapa hari yang lalu, membuat Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil angkat bicara. Ia menyebutkan, kasus kekerasan seksual yang terjadi di Kabupaten Cianjur tidak hanya menjadi perhatian provinsi saja, akan tetapi nasional.

“Ini jadi perhatian kami di provinsi dan juga nasional tentunya,” ujar pria yang biasa disapa Kang Emil ini.

Dirinya pun menambahkan, pengawasan berbasis kewilayahan perlu dibentuk sebagai langkah pencegahan terjadinya pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak. Selain itu, bantuan dan pendampingan hukum bagi korban kekerasan atau pelecehan seksual harus diberikan, khususnya di bawah umur guna memastikan identitas korban dilindungi dan hukum bagi para pelaku dipertegas.

“Di provinsi kami sudah ada lembaga bantuan hukum khusus. Jadi orang-orang yang melakukan dihukum tegas, korban dilindungi dari sisi privasinya,” jelasnya.

Senada dengan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, Pemerhati Anak Indonesia, Seto Mulyadi pun berpendapat perlu adanya pengawasan di setiap wilayah terlebih di tingkat rukun tetangga (RT). Program tersebut sudah dilakukan di beberapa daerah seperti Tangerang Selatan.

“Kalau untuk di tingkat Rt, kita sudah lakukan di sekitar rumah saya yaitu Tangerang Selatan dan itu dicontoh daerah lain. Sehingga ini sangat perlu untuk Kabupaten Cianjur,” terangnya.

Lanjutnya, program pengawasan tersebut dimasukan dalam kepengurusan Rt yakni Seksi Perlindungan Anak (Sparta). Menurutnya, hal tersebut guna sebagai langkah pencegahan dini yang dimulai dari akar.

“Tentunya ini bisa dimulai dari akar terlebih dahulu. Selain itu, banyaknya kasus pelecehan yang dilakukan oleh orang terdekat seharusnya menjadi pelajaran bagi setiap keluarga agar tidak terlalu mempercayakan anak atau anggota keluarga dengan orang terdekat yang dianggap aman,” paparnya.

Sementara itu, Psikolog, Retno Lelyani Dewi mengungkapkan, dari hasil risetnya terhadap para pelaku kekerasan seksual terhadap anak yang sudah diwawancarai, pelaku tidak memiliki rasa menyesal dan malu dengan apa yang telah dilakukan.

“Pemeriksaan yang saya lakukan terhadap beberapa pelaku yang rata-rata anak dan remaja menunjukkan mereka ini tidak merasa ada masalah dengan prilakunya. Tidak ada ekspresi menyesal dan malu karena terhadap apa yang sudah dilakukan,” ujarnya.

Lanjutnya, otak manusia merespon lingkungan sesuai dengan dorongan dan kebutuhan yang dimiliki. Selain itu, tayangan-tayangan yang ditonton harusnya memiliki nilai produktif, edukatif dan memberikan hiburan. Akan tetapi banyak anak dan remaja dengan situasi belajar di rumah tak sedikit melakukan penelusuran hal-hal lain.

“Saat otak melihat tayangan yang tidak biasa, pastilah tayangan itu direkam dalam ingatan. Kebanyakan akan mengulangi dan akhirnya terdorong ingin mencoba. Artinya kondisi ini terbentuk karena orang tua kurang memberikan bimbingan. Sehingga anak tidak punya filter saat membuka tayangan tersebut,” ungkapnya.

Sehingga secara langsung, gawai atau ponsel menjadi peran pendukung terjadinya kejahatan seksual terhadap anak. Pasalnya, lanjut Retno, beberapa pelaku menyebutkan terinspirasi dari ponsel. Selain gawai, faktor kedua yakni lingkungan atau lingkungan sosial.

“Ini (lingkungan, red) juga mempengaruhi anak dan remaja. Lingkungan sosial, teman sebaya yang buruk akan mendorong anak untuk melakukan hal-hal yang dianggap ‘hebat’ dalam arti negatif,” jelasnya.

Dirinya pun mengimbau kepada orang tua sebagai peran utama dalam langkah penanggulangan untuk bisa mengajak anak maupun anggota keluarga lainnya berbincang dan berbagi cerita dari mulai keseharian serta saling bertukar pikiran. Hal tersebut diyakini sebagai salah satu langkah awal pencegahan.

“Saya sarankan minimal 15 menit. Tapi kok ya tegaa cuma 15 menit?? Bahkan kalau bisa lebih dari itu. Karena perkembangan anak kita tidak akan pernah berulang. Saya biasanya minta orang tua cek dan dampingi anak jika mungkin, tapi jika terlalu sibuk ya minimal 15 menit,” paparnya.(kim)