Kasus Pemukulan Perawat RSUD Cianjur, Begini Kronologis Kejadian dari Pihak Keluarga Pasien

RADARCIANJUR.com – Pihak keluarga pasien yang melakukan aksi pemukulan terhadap perawat RSUD Sayang Cianjur angkat bicara.

Pihak keluarga menggaku melakukan aksi tersebut secara spontan karena terpancing emosi dan sakit hati karena perawat mengeluarkan kata kurang sopan kepada almarhum ibunya yang sudah meninggal.

Kalimat yang memancing emosi keluarga pasien adalah bahwa “almarhumah sang ibu tidak mau diam dan tak bisa diatur, beruntung tidak diikat juga”.

Kata-kata tersebutlah yang memancing emosi keluarga.

Perwakilan keluarga, E, menceritakan kronoligis kejadian sampai adanya pemukulan di kamar nomor 20 ruang ICU RSUD Sayang Kabupaten Cianjur.

“Pada hari Senin (20/7/2020) sekitar pukul 08.30 WIB kami membawa orangtua kami ke RSUD Kabupaten Cianjur dikarenakan sakit lambung dan tiba sekitar pukul 09.00 WIB,” ujarnya, Sabtu (25/7/2020).

Pasien langsung ditangani oleh bagian IGD RSUD Kabupaten Cianjur dalam keadaan sadar dan masih bisa komunikasi dengan hasil pemeriksaan dokter jaga bahwa pasien adanya sakit lambung dan penyempitan pembuluh jantung.

“Setelah itu dilakukan tindakan medis dengan memberikan obat berupa tablet dan cairan yang dimasukan lewat suntikan,” katanya.

Keluarga mendapat keterangan dari petugas IGD yang memberitahukan bahwa pasien harus dirawat di ruang ICU.

“Pada pukul 21.00 WIB ibu saya tercinta dimasukan ke ruang ICU dengan mengikuti prosedur yang telah ditentukan oleh RSUD akan tetapi dari perawat yang menerima diruang ICU keluar kalinat yang saya pikir kurang pantas dikeluarkan oleh petugas kepada keluarga pasien yang sedang ditimpa musibah, dia bilang kalau pasien masuk ICU jangan berharap banyak,” ujar E sambil mengutip perkataan perawat.

E mengaku selama ibunya dirawat di ruang ICU tidak pernah diberikan progres keadaan pasien dengan alasan harus langsung ke dokter yang menanganinya.

Pada hari Selasa (21/7/2020) sekitar pukul 08.30 WIB dapat keterangan bahwa pasien baru dimandikan dan bisa diajak bicara.

“Pihak keluargapun merasa senang dengan berita tersebut, lalu pada pukul 23.30 WIB dapat kabar bahwa keadaan ibunda tercinta kritis dan pihak keluarga langsung menuju RSUD dan tiba di ruang ICU ibunda tercinta kami telah meninggal dunia,” katanya.

“Seterusnya pihak keluarga menerima takdir yang telah ditentukan oleh yang maha kuasa dengan menandatangani dokumen kematian ibunda kami tercinta,” katanya.

E mengatakan, saat almarhumah ibunya akan dipindahkan ke ruang pemulasaraan ada petugas mengeluarkan kalimat yang tidak etis dan sangat menyakitkan pihak keluarga dengan mengeluarkan kalimat “si Ibu mah ( pasien) teu daek cicing teu bisa diatur untung oge teu ditalian,”.

Mendengar perkataan tersebut pihak keluarga pun dengan spontan marah dan terjadilah peristiwa tersebut di atas.

E mempertanyakan seperti apakah tidak bisa diam dan tidak bisa diaturnya ibunya yang usianya sudah 70 tahun.

“Bukankah pihak keluarga sudah menyerahkan sepenuhnya kepada pihak RSUD dan sudah merupakan kewajiban pihak RSUD / petugas medis untuk memberikan pelayanan terhadap pasien bagaimanapun keadaannya, apakah SOP diruang ICU seperti itu?
Apakah semua perawat ICU RSUD melayani pasien seperti itu?
Apakah semua perawat sudah tidak ada rasa empati terhadap keluarga pasien yang meninggal?” katanya. (tribun/dep)