Buntut Pemecatan Perawat, RSUD Cianjur Kena Sanksi

RADARCIANJUR.com– Kelanjutan kasus pemecatan perawat RSUD Sayang, Cianjur belum menemui titik terang. Pasalnya, perawat yang menjadi korban belum kembali bekerja karena terganjal SK yang belum dicabut.

Inspektur Itda Kabupaten Cianjur, Arief Purnawan mengatakan, pihak RSUD Sayang mendapatkan sanki yakni harus membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) tentang pemberhentian pegawai. Hal itu merupakan sanksi yang diberikan Itda Cianjur.

“Kampai saat ini mereka belum membuat. Sehingga nanti ada kejelasan untuk personil-personil yang akan datang sesuaikan dengan kompetensi yang ada,” ujarnya.

Dengan kasus yang menimpa saat ini, tentu terlihat kerangka manajemen RSUD Sayang dinilai kurang baik. Sehingga dengan adanya SOP tersebut bisa terselesaikan.

“Kelas bagaimana tata cara mengeluarkannya sesuai dengan panduannya. Ada mekanismenya. Walaupun sanksi sebetulnya yang namanya bisa diberikan tanpa prosedur. Tapi lebih indah, kalau itu dibuat sehingga orang itu memiliki kejelasan dengan SK yang diterima, ” paparnya.

Lanjutnya, saat ini perawat yang menjadi korban pemecatan tersebut pun tidak bekerja dan berada di rumahnya.

“Karena selama yang mengeluarkan SK itu belum dicabut. Jadi SK itu belum dicabut, posisinya di rumah,” jelasnya.

Selain itu, jika pihak RSUD Cianjur memang tidak mematuhi perintah pembuatan SOP pemberhentian pegawai itu, maka akan ada tindakan berikutnya sesuai dengan ketentuan yang ada.

“Kalau yang sifatnya PNS itu mengacu ke PP 53 Tahun 2010. Kalau non PNS peraturan yang berkaitan dengan rumah sakit,” tutupnya. (kim)