Seperti Ini Perayaan Idul Adha 1441 Hijriah di Lapas Cianjur

BERKURBAN: Warga binaan Lapas Klas 2 B Cianjur melakukan kurban bersama dengan petugas lapas. (Foto Hakim Radar Cianjur)

RADARCIANJUR.com – DI balik jeruji besi, warga binaan (wabin) Lembaga Pemasyarakatan Klas 2 B Cianjur merasakan kondisi berbeda di tengah Idul Adha pada Jumat (31/7).

LAPORAN Hakim Radar Cianjur

Pagi itu. Gema takbir berkumandang saling bersautan dari satu masjid ke masjid lainnya. Solat Idul Adha pun dilaksanakan di Masjid At Taubah Lapas Klas 2 B Cianjur oleh petugas lapas beserta wabin yang beragama islam. Semua begitu khidmat dan khusyu. Raut bahagia terpancar dari wajah setiap wabin yang merayakan hari raya kurban ini.

Namun dari sekian banyak wabin, ternyata ada dua wabin yang melakukan kurban. Di balik kasus yang menjeratnya, tidak membuat kedua wabin ini lupa akan berbagi terhadap sesama. Berbagi tak akan membuat miskin. Itu lah yang dirasakan dua wabin tersebut dengan kasus pencurian dengan kekerasan yang melakukan kurban. Tak ada yang menyangka dan tak ada yang mengira. Di balik jeruji besi yang dingin, ternyata dua wabin menyisihkan sebagian hartanya untuk berbagi terhadap sesama. Bukan dari kalangan berada dan bahkan tidak di tempat dengan kehidupan yang nyaman.

Hendri Purnama wabin asal Kecamatan Sukanagara. Dirinya bersyukur dapat melaksanakan kurban dengan tujuan ibadah serta bentuk rasa syukur atas apa yang diterima selama hidup di dunia.

Meski di hari raya kurban saat ini berbeda karena tidak ada kunjungan. Pasalnya, pandemi sedikit menghalangi para wabin yang tidak bisa bersilaturahmi dengan keluarga yang dilakukan seperti pada tahun sebelumnya.

“Sebetulnya hari raya itu sama, hanya saja momen yang berbeda karena saat ini masih dalam kondisi pandemi. Sehingga tidak ada kunjungan,” ujar pria yang biasa disapa Ruben ini.

Senyum bahagia tergambar dari wajahnya yang berseri. Bahagia atas syukur nikmat yang sudah diberikan Yang Maha Kuasa atas kesempatan untuk berbagi di Hari Raya Idul Adha. Tahun ini, dirinya berkurban untuk ibunda tercinta sebagai bentuk bakti dan rasa sayangnya.

“Ini bentuk bakti saya kepada ibu. Meski jauh, ini kebahagiaan yang dapat saya berikan,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Hal senada dirasakan Saefullah wabin asal Kecamatan Campaka. Dirinya yang dituakan di Lapas Klas 2 B Cianjur oleh wabin lainnya, merasa tidak menyangka dapat berkurban. Pasalnya, salah satu wabin yang dianggap menjadi anak angkat memberikan kurban.

“Saya tidak menyangka, anak angkat saya yang malah memberikan kurban untuk saya. Terharu tentunya dan tidak menyangkat,” paparnya.

Sontak dirinya merasa tidak dapat menahan harunya. Bagi kedua wabin tersebut, berkurban bukan menunjukan kita memiliki harta yang berlebih. Akan tetapi Yang Maha Kuasa memberikan kesempatan untuk berbgai. Selain itu, di setiap hari raya selalu tergambar akan kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat. Sehingga menjadikan kedua wabin ini tetap istikomah di jalan yang benar. (*)