Sekolah Buka di Zona Kuning-Oranye, Siswa Wajib Bawa Surat Izin Ortu

ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Uji coba pembukaan SMA dan SMK di Jatim tinggal empat hari lagi. Beberapa sekolah yang berada di zona kuning dan oranye mulai siap-siap. Meski demikian, penentunya adalah orang tua siswa.

Pihak sekolah tidak boleh memaksa siswa kembali ke sekolah jika orang tua tidak mengizinkan.

Persiapan pembukaan SMA dan SMK kemarin tampak di beberapa daerah. Di Mojokerto, ada enam sekolah yang akan melakukan uji coba pembelajaran tatap muka. Meliputi jenjang SMA, SMK, dan sekolah luar biasa (SLB). Salah satunya adalah SMAN 1 Kota Mojokerto. ’’Kami sudah bentuk Satgas Covid-19 dengan Wakasek kesiswaan sebagai penanggungjawabnya,’’ terang Kepala SMAN 1 Kota Mojokerto Imam Wahjudi kepada Jawa Pos Radar Mojokerto (Radar Cianjur Group).

Satgas Covid-19 bertugas memastikan protokol kesehatan diterapkan sebelum siswa masuk ke lingkungan sekolah. Misalnya, pemeriksaan suhu tubuh dengan thermal gun. Siswa juga diminta membawa surat pernyataan dari orang tua. Isinya tentang pernyataan tidak berkeberatan jika anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka.

Dengan demikian, keikutsertaan peserta didik dalam uji coba pembelajaran tatap muka itu bersifat sukarela.’’Kalau ada orang tua yang masih khawatir, kami tidak memaksa. Tidak hadir juga tidak masalah, kami tidak memberi sanksi apa-apa,’’ ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan, ada beberapa tahapan penting dalam uji coba pembelajaran tatap muka. Tidak semua sekolah akan mengikuti uji coba itu. Sekolah dipilih secara selektif atas persetujuan bupati atau wali kota masing-masing. Dia juga mengingatkan bahwa uji coba tersebut hanya untuk sekolah di zona selain merah. ’’Jadi, sekolah yang berada di zona merah tetap ditutup. Sedangkan yang di zona hijau, kuning, dan oranye akan dibuka,’’ terangnya.

Untuk zona kuning, kegiatan belajar-mengajar (KBM) dibuka 50 persen dari jumlah siswa per kelas. Sedangkan zona oranye 25 persen. Pihak sekolah diminta menyiapkan empat mata pelajaran setiap hari. Untuk setiap mata pelajaran disediakan waktu 45 menit. Artinya, uji coba KBM hanya berlangsung selama tiga jam tanpa istirahat. ’’Sekolah yang sudah dibuka berdasar zonasi tetap diminta untuk mematuhi protokol kesehatan,’’ ucapnya.

Kepala Dinas Pendidikan Jatim Wahid Wahyudi mengatakan, jajarannya telah berkoordinasi dengan pemerintah kebupaten/kota dan satgas Covid-19. Tujuannya, memastikan uji coba pembelajaran tatap muka berjalan dengan lancar.

Dia mengungkapkan, uji coba akan menggunakan metode blended learning. Memadukan metode pembelajaran jarak jauh dengan tatap muka secara terbatas di sekolah, baik daring (online) maupun luring (offline).

Wahid menambahkan, sekolah telah menyiapkan jadwal secara cermat. Artinya, kapan siswa ikut KBM tatap muka dan kapan belajar dari rumah.

’’Demikian pula kurikulumnya, sudah disesuaikan dengan kurikulum darurat yang diterbitkan Kemendikbud, dengan menekankan pada kompetensi inti dari suatu mata pelajaran,” terangnya.

Di Jawa Tengah, beberapa sekolah juga bersiap memulai pembelajaran tatap muka mulai 24 Agustus. Di Klaten misalnya. Dinas Pendidikan Klaten menerjunkan tim survei yang bekerja sejak kemarin (12/8). Mereka memantau kesiapan sarana dan prasrana 114 SMP dan 700 SD.

Survei bakal berjalan tiga hari, atau hingga Jumat (14/8). Selama survei, tim berperan dalam menentukan, apakah sekolah bersangkutan siap melaksanaan KBM tatap muka atau belum. ”Tim mulai turun ke sekolah-sekolah untuk melihat kesiapan sarana dan prasrana. Di antaranya, tempat cuci tangan dengan sabun, hand sanitaizer, dan thermo gun. Termasuk kesiapan dari gurunya sendiri,” jelas Kasubbag Perencanaan dan Pelaporan Disdik Klaten Sidik Pramana saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di ruang kerjanya kemarin.

Hasil tinjauan tim akan dianalisis dalam forum. Apakah sekolah bersangkutan telah memenuhi kriteria melaksanakan KBM tatap muka atau belum. Dinas pendidikan juga membuat format surat izin yang nanti diisi orang tua. Terkait boleh tidaknya sang anak melaksanakan KBM tatap muka terbatas di sekolah. Di Blora, lima sekolah ditunjuk sebagai sekolah percontohan atau pilot project pembelajaran tatap muka. Yakni, SMPN 1 Todanan, SMPN 1 Menden, SMPN 2 Kedungtuban, SMPN 2 Tunjungan, dan MTs Negeri Jepon. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora Hendi Purnomo mengungkapkan, lima sekolah itu berada di zona kuning. ”Siswanya hanya dari wilayah sekitar sehingga potensi penularannya minim,” ucap dia seperti dilansir Jawa Pos Radar Kudus kemarin.

Bantahan Kemendikbud

Kemendikbud membantah munculnya klaster baru di sekolah setelah pembelajaran tatap muka. Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud Jumeri menyatakan, kasus-kasus penularan yang viral itu tidak terjadi di satuan pendidikan.

Pada kasus di Papua, misalnya. Dari kabar yang beredar, disebutkan ada 289 peserta didik yang terpapar Covid-19. Seolah-olah ada penularan masif setelah pembukaan sekolah di zona kuning. ”Kejadian di Papua itu bukan terjadi pada Agustus, tetapi itu akumulasi dari Maret sampai Agustus,” katanya dalam temu media secara daring kemarin (13/8).

Menurut laporan yang diterimanya, penularan terjadi di lingkungan kehidupan sehari-hari. Anak tertular dari orang tua dan lingkungan sekitar. Bukan di sekolah. ”Memang ada satu anak yang tertular di satuan pendidikannya. Tapi, itu terjadi sebelum proses pembukaan ini,” ungkapnya.

Kondisi serupa terjadi di Balikpapan, Kalimantan Timur. Dikabarkan ada satu orang guru yang positif Covid-19. Setelah diselidiki, ternyata dia tertular dari tetangganya dan posisinya tidak di sekolah. ”Di Balikpapan sendiri belum dilaksanakan pembelajaran tatap muka,” katanya.

Kemudian peristiwa di Tulungagung, Jawa Timur. Seorang siswa SD dinyatakan positif Covid-19. Padahal, sekolahnya belum melakukan kegiatan tatap muka. Dari laporan, diketahui bahwa siswa tersebut tergabung dalam kelompok belajar kecil. Karena kesulitan pembelajaran daring, akhirnya guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil. Kemudian, guru tersebut mendatangi kelompok-kelompok belajar tersebut secara bergiliran untuk belajar bersama. Nah, di kelompok itu terdeteksi satu peserta yang positif Covid-19. Dia diduga tertular dari orang tuanya yang memang sering bepergian karena pekerjaan.

Contoh lainnya mengenai klaster Pontianak. Berdasar informasi yang dia terima, ada 14 siswa dan 8 guru SMA yang terdeteksi reaktif Covid-19. Setelah diklarifikasi, ternyata seluruhnya dinyatakan reaktif bukan lantaran kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah. Justru, seluruhnya dites sebelum melakukan pembukaan pembelajaran tatap muka. Pemprov Kalimantan Barat sengaja melakukan swab test kepada seluruh guru dan murid secara random. ”Ini adalah contoh yang baik dari proses persiapan menghadapi pembukaan tatap muka,” katanya.(jwp)