Dua Pesepeda Cianjur Persembahkan Kado Kemerdekaan RI dengan Menempuh Perjalanan 1.000 Kilometer

BAHAGIA: Dua pesepeda Kabupaten Cianjur berhasil mencapai tujuan dengan menggowes sepeda selama 15 hari menuju Dieng, Jawa Tengah dipersembahkan untuk Kemerdekaan Republik Indonesia. (Foto Hakim Radar Cianjur)

Rela Tidur di Hutan Hingga di Bawah Jembatan

KULIT hitam dan keringat bercucuran. Bahagia dan tepuk tangan menyambut kedatangan kedua pesepeda setelah melalui jarak 1000 kilometer antar Cianjur-Dieng, Jawa Tengah atau selama 15 hari. Bukan tanpa tujuan dan tanpa arah, memang perjalanan ini tidak dekat dan mudah, terlebih menggunakan sepeda untuk menempuh perjalanan tersebut. Dua pesepedah asal Kabupaten Cianjur ini memberikan hadiah terindah untuk Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75.

LAPORAN Abdul Aziz N Hakim, Cianjur

Minggu (16/8) siang dua pesepeda Kabupaten Cianjur tiba setelah melakukan perjalanan Cianjur-Dieng, Jawa Tengah. Rona bahagia terlukis dari wajah keduanya setelah tiba di Cianjur. Dicky Hendrayana (57) dan Niko (36) mempersembahkan perjuangan perjalanannya menuju Dieng, Jawa tengah untuk hadiah Kemerdekaan RI. Perjalanan yang dilakukan tersebut merupakan spontanitas yang sebelumnya akan dilakukan sendiri, namun dirinya mengajak Niko untuk menemani perjalanan 1.000 kilometer.

Dalam satu hari, rata-rata mengowes hingga jarak 80 kilometer atau kurang lebih delapan jam. Awal perjalanan menggunakan rute jalur selatan dan perjalanan pulang melalui utara. Panas dan hujan tidak dirasakan dua goweser ini, semua dinikmati dengan suka cita demi Indonesia. Ketika jenuh menyelimuti, keduanya kerap kali bercanda sambil bernyanyi untuk menghindari kejenuhan tersebut.

Di malam kedua perjalanan, dirinya tidur di hutan dekat pantai yang berbatasan antara Cianjur-Garut dengan menggunakan perlengkapan kemah. Bahkan di malam ketiga, keduanya nekat berkemah di Muara Cibaluk, Sancang yang dilarang oleh masyarakat sekitar. Namun keindahan dan rasa percaya diri tetap beristirahat di muara tersebut. Bahkan keduanya tidur di bawah jembatan untuk mengistirahatkan tenaga agar kembali melanjutkan perjalanan.

Selama 15 hari, keduanya tak lelah mengkayuh sepeda dengan membawa berbagai perlengkapan selama di perjalanan. Keringat yang bercucuran seakan menjadi hal biasa di setiap tetesan di sekujur tubuh.

“Tadinya saya mau sendirian, tapi jika melihat jaman sekarang kan riskan ya kalau sendiri. Akhirnya saya mengajak Niko dan langsung latihan untuk persiapan perjalanan, banyak sukanya sih dan kalau dukanya kita telan saja,” ujar Pesepeda Senior Cianjur, Dicky Hendrayana.

Tanjakan dan turunan seakan bukan menjadi hambatan untuk keduanya, bahkan dianggap sebagai irama dalam perjalanan. Bahkan pada suatu momen yakni diantara Dieng-Pekalongan terdapat turunan diketinggian sekitar 2000 meter, namun di depan terdapat tanjangan dengan ketinggian 1.700 meter. Pada saat di atas puncak tanjakan, keduanya pun menghibur dengan bernyanyi dan bercanda.

Tak ada pengawalan khusus sepanjang perjalanan keduanya. Namun keduanya berhasil melewati rintangan dengan buah yang manis. Di hari keempat dan selanjutnya, beberapa komunitas sepeda turut membantu dan memberikan tempat untuk beristirahat.

“Kita berdua berkomitmen dengan satu kata semangat yakni mengayuh tanpa mengeluh, selain itu ini juga sebagai trigger untuk pesepeda Cianjur agar bersatu dan bersama-sama membangun dunia sepeda Cianjur dengan tujuan yang sama,” jelasnya.

Rencananya, pada tahun 2021 akan berencana kembali mengowes sepedanya menuju nol kilometer Indonesia yakni Sabang. (*)