2.843 Ibu-ibu Betah Bolak-balik ke Pengadilan Agama, Mintanya Cuma 1….

RADARICNJUR.com-Pengadilan Agama (PA) Kota Bandung mencatat adanya 3.660 perkara perceraian sejak awal tahun hingga Agustus 2020.

Dari jumlah itu, perceraian terbanyak diajukan oleh pihak perempuan, dengan jumlah 2.843 kasus cerai gugat.

Sementara, kasus yang diajukan pihak laki-laki 817 perceraian talak.
Juru Bicara Pengadilan Agama (PA) Kota Bandung, Subai menyebut, khusus pada bulan Agustus terdapat 532 gugatan perceraian, dengan sekitar 448 pasangan telah resmi bercerai.

“Perkara yang tercatat sepanjang Agustus 532 gugatan contentiosa (cerai gugat atau cerai talak), yang sudah diputus 448. Sementara perkara hari Rabu (26/8) kemarin 43 perkara,” ungkapnya.

Data di PA Kota Bandung, sejumlah faktor penyebab perceraian didominasi perselisihan, masalah ekonomi dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Ada beberapa faktor perceraian, yang dua yang mendominasi pertengkaran dan masalah ekonomi,” ungkapnya.

Secara rinci, sepanjang 2020, faktor petengkaran menempati urutan teratas, sebanyak 1.310 perkara.

Sementara karena alasan ekonomi 1.235 perkara, meninggal 245 perkara, perceraian karena KDRT 35 perkara, poligami 3 perkara, dan sejumlah kategori lainnya.

Sementara dari kategori usia, penggugat 31 hingga 40 tahun menjadi yang terbanyak. Dari data PA terdapat sekitar 1.500 orang.

Kedua, penggugat usia 41 hingga 50 tahun sekitar 1.400 orang dan usia 21 hingga 30 tahun sekitar 1.200 orang.

Menilai dari data yang ada di Pengadilan Agama, kata Subai, pandemi Covid-19 dianggap tak terlalu berpengaruh signifikan pada kasus perceraian di Kota Bandung.

Misalnya, jika dibandingkan jumlah perkara perceraian Agustus 2019 dan Agustus 2020 tak terlampau jauh, masih di kisaran 500-an perkara.

“Justru, ada penurunan pendaftaran gugatan pada bulan Mei, saat puncak pandemi atau saat PSBB, karena pendaftaran secara langsung ditutup sementara,” ungkapnya.

“Pendaftaran hanya melalui online dengan sidang secara litigasi. Untuk perkara di bulan Mei hanya masuk 183,” ungkapnya.

“Dari data, pandemi tidak berpengaruh secara signifikan. Karena faktor ekonomi selalu begitu. Walaupun bisa saja memang ada pengaruh karena pendapatan berkurang,” tambahnya.

Sepanjang tahun 2019, total perceraian di Kota Bandung tercatat di 6.084.
Tahun lalu, pihak perempuan juga menjadi yang paling banyak, dengan angka 4.670 cerai gugat, sedangkan cerai talak 1.141 perkara.

Sementara tiga faktor yang juga mendominasi di tahun lalu adalah perselisihan, masalah ekonomi dan KDRT.

Subai mengatakan, rata-rata mediasi dalam perkara perceraian jarang yang berhasil. Kasus perceraian dikatakan sulit diurungkan.

Perkiraan, kata Subai, dari 25 perkara, misalnya, paling satu perkara yang berhasil dimediasi (batal cerai).

(muh/may)